Trump + Macet + Sampah = Wisatawan Tiongkok Turun 35 % Di Bali

Poin Penting

  • Perang dagang AS-Cina berdampak pada jumlah kedatangan wisatawan Tiongkok ke Bali, Indonesia beralih ke pariwisata kelas atas untuk mengisi kekosongan.
  • Membenahi Pelancong Harga Nol China
  • Semakin banyak pantai berpolusi

Masalah muncul di “Pulau Dewata” Indonesia dan tampaknya ada beberapa penyebab utamanya: Donald Trump, wisata murah yang berasal dari pasar Cina, dan polusi yang semakin memburuk. 

Jumlah wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Bali tahun lalu turun 35 persen, membuat pengusaha perhotelan Bali garut-garut kepala. Padahal turis Tiongkok, sebelumnya merupakan sumber pengunjung utama pulau itu, diikuti dengan jumlah turis Australia. 

Menurut Bali Tourism Board, jumlah keseluruhan pengunjung ke pulau itu selama 10 bulan pertama tahun ini tumbuh hanya 1,2 persen, dibandingkan dengan lebih dari 15 persen pada 2017. Lebih dari 6,5 juta orang mengunjungi Bali pada 2018.

Penurunan dramatis ini adalah bagian dari pelambatan pariwisata di wilayah daratan Tiongkok, yang menurut para analis dan pelaku industri dipicu oleh perang dagang AS-Cina yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump. “Ini bukan hanya Bali. Jika Anda melihat Thailand, itu hal yang sama – turun 35 persen menurut Dewan Pariwisata Bali.
Pemerintah Tiongkok tadinya masih memberikan insentif bagi warga untuk melakukan perjalanan, tetapi ini dihapus tahun lalu dan memengaruhi jumlah pelancong di luar negeri.”

tikum-chinese-tourist

Dampak terhadap ekonomi Bali secara keseluruhan masih harus dilihat, tetapi ironisnya adalah bahwa Cina pada dasarnya telah menyelamatkan industri pariwisata pulau itu di saat-saat kelam setelah serangan bom teroris pada tahun 2002 dan 2005 yang menewaskan ratusan wisatawan dan menghentikan ratusan ribu lainnya dari mengunjungi Bali .
Pada tahun 2002, Cina bahkan tidak masuk dalam 10 besar untuk kedatangan pengunjung ke Bali, tetapi telah dengan kuat memegang tempat No 1 selama lima tahun terakhir. Namun, ini tidak selalu membawa senyum kepada penduduk Bali yang ramah.

Selama bertahun-tahun telah ada keluhan dari penduduk setempat tentang tur Cina “zero pricing” – istilah industri untuk tur bus murah yang tidak menguntungkan ekonomi Bali. Dalam tur ini, kelompok menghabiskan waktu sekitar lima hari digiring dari kuil ke restoran, hotel, dan kios suvenir yang telah dirancang sebelumnya dengan hubungan bisnis ke daratan Cina, sebelum dikembalikan ke dalam pesawat pulang. 
Pelancong Harga Nol telah berlangsung selama 21 tahun, sering disebut sebagai fenomena “tutup mulut dan makan supmu”, tidak menguntungkan pengunjung Tiongkok pula pada akhirnya karena ongkos makan dan belanja yang harus dibayar turis Tiongkok ternyata over charrged hingga 70%. Misalnya setiap turis bayar paket Bali $400 per paket diluar ongkos pesawat tapi yang atur pengeluaran, yaitu tadi si tour operator.

Tur model ini ternyata tidak menguntungkan orang Bali, karena mereka tidak menghasilkan pendapatan atau pekerjaan yang signifikan. Setelah mengabaikan masalah selama bertahun-tahun, pemerintah Bali sekarang menindak dan mengejar peraturan perlindungan konsumen, termasuk menutup toko dan operator tur yang tidak berlisensi dan tidak bermoral pada beroperasi dari Cina daratan. 

Para pejabat juga telah berbicara dengan rekan-rekan mereka di pemerintah Cina tentang masalah ini dan berharap bantuan Beijing untuk menjaga kelangsungan pariwisata yang baik di Bali sehingga masa depan semua pihak, yang mengunjungi maupun Bali menjadi lebih baik. Sebagai contoh, Bali sangat menyambut wisatawan Tiongkok. Namun, Bali tidak membutuhkan rantai toko ‘mafia Cina’.”

Beberapa pemain industri pariwisata dari segmen high-end mengatakan mereka tidak terlalu khawatir tentang penurunan pengunjung Cina karena hal ini terutama mempengaruhi pasar bagian bawah. Para pemain kela atas menyarankan agar pemerintah provinsi dan nasional perlu lebih terfokus pada sumber daya untuk menarik pengunjung pasar menengah ke atas dari Eropa. Sementara kedatangan dari Inggris, Prancis dan Jerman meningkat tahun lalu, hanya ada 263.000 pengunjung dari Inggris, pasar Eropa terbesar, antara Januari dan Oktober lalu – jauh berbeda dari lebih dari 1,1 juta wisatawan masing-masing dari Cina dan Australia. 

Halangan yang membendung datangnya Turis Eropah ke Bali sebenarnya adalah “Sampah”. Para turis sering sekali berjalan melewati puing-puing dan sampah yang hanyut ke pantai di sepanjang pantai Kuta yang populer dekat Denpasar, Bali. Dan ini jarang kita dengar oleh masyarakat luar Bali, tapi di Eropa, Amerika, Australia sana justu menjadi berita Viral. 

Masalah sampah ini di perburuk pula oleh polusi – baik di udara maupun di pantai Bali. Lalu lintas di Badung, distrik wisata utama, memburuk setiap tahun, menurut penduduk pulau yang menggunakan lalu lintas setiap hari. Pada Tahun Baru, kualitas udara hanya dinilai “moderat”, sedikit di atas tidak sehat bagi orang dengan kondisi pernapasan dan medis lainnya. 
Panduan perjalanan Fodor mencantumkan “no go” untuk tahun 2020 termasuk Bali karena masalah lingkungan. Catatan dari Badan Lingkungan Hidup Bali menunjukkan pulau itu menghasilkan 3.800 ton sampah sehari pada tahun 2017, dengan hanya 60 persen berakhir di tempat pembuangan sampah.

Botol plastik, pembungkus dan sampah lainnya adalah New Normal di pantai wisata tenar, dan telah mendorong pemerintah provinsi untuk melarang toko menggunakan tas belanja plastik sekaligus mempertimbangkan penerapan pajak US$ 10 untuk kedatangan wisatawan asing untuk program perlindungan lingkungan.

Sampah di pantai berasal dari laut, dari Jawa, dari Bali, dari Cina, dari mana-mana. Orang-orang tidak tahu dari mana semua itu berasal.

emerintah masih berusaha melakukan sesuatu – semoga tahun ini mereka dapat melakukan sesuatu tentang sampah ini, misalnya menangkal di laut agar tidak mendarat di Pantai Indah Bali. 

Bagaimana menurut sobattikum? Mungkin punya gagasan atau ide. Shae di formulir dibawah dan ikuti erus tikum.id homeofcommunity.

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.

Anda mungkin suka