Bangka Belitung dan Tradisi Perang Ketupat

Tradisi perang ketupat merupakan keunikan dari Bangka Belitung yang masih dilestarikan hingga sekarang. Berikut pembahasannya.

Tradisi Perang Ketupat Bangka Belitung

Tikum.id Life – Tradisi perang ketupat merupakan keunikan dari Bangka Belitung yang masih dilestarikan hingga sekarang. Berikut pembahasannya.

<img data-lazyloaded=
Tradisi Perang Ketupat Bangka Belitung
<img data-lazyloaded=
Tradisi Perang Ketupat Bangka Belitung

Indonesia sebagai negara yang kaya akan keberagaman menyimpan banyak tradisi dan kebudayaan unik di setiap daerah. Salah satunya adalah Bangka Belitung. Setiap hendak memasuki bulan Ramadan, terdapat kebiasaan yang kerap dilakukan masyarakat sana, yakni tradisi perang ketupat. Apa sejarah dan bagaimana proses pelaksanaannya? Berikut ulasan lengkapnya.

Dianggap Sebagai Pengusir Bala

Sampai saat ini, tradisi perang ketupat masih dilakukan oleh warga Desa Tempilang yang berlokasi di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Oleh masyarakat sana, perang ketupat juga dikenal sebagai ruwahan Tempilang.

Kebiasaan unik ini bermula dari keresahan warga Desa Tempilang akan serangan bajak laut. Saat itu, sebagian besar terdiri dari penduduk adalah perempuan sehingga desa mudah diserang. Mengetahui hal tersebut, beberapa pesilat yang sakti bertekad untuk mengusir para bajak laut.

Namun, setelah para bajak laut tak lagi menyerang, warga kembali dibuat gempar oleh munculnya siluman buaya yang kerap menculik para perempuan muda. Untuk mengatasinya, mereka memutuskan untuk mengadakan ritual bersama-sama sebagai pengusir bala. Namun, terdapat pula versi lain bahwa tradisi ini berawal dari upacara Taber kampung untuk menolak bala supaya para penghuni desa terbebas dari berbagai musibah dan penyakit.

Apa pun versinya, acara tersebut memiliki inti yang sama, yakni dilakukan dalam berbagai rangkaian upacara dan bertujuan supaya warga setempat terbebas dari hal-hal buruk yang dipercaya berasal dari kekuatan mistis dan roh halus.

Berdasarkan cerita dari tokoh masyarakat, ruwahan Tempilang sudah ada selama ratusan tahun, sejak Gunung Krakatau meletus pada 1883. Hingga sekarang, tradisi unik ini masih tetap lestari. Namun, karena munculnya pandemi, hanya beberapa rangkaian upacara saja yang dilakukan, sementara perang ketupatnya sendiri ditiadakan.

Pelaksanaan Tradisi Perang Ketupat Bangka Belitung

Tradisi ini dilakukan setiap memasuki minggu ketiga bulan Syaban dan berlangsung selama dua hari. Prosesinya terdiri dari beberapa tahap. Pertama, dilakukan prosesi ngancak berupa pemberian sesaji kepada makhluk halus. Sesaji tersebut diberikan untuk makhluk halus yang bersemayam di laut dan prosesinya dipimpin oleh Dukun Laut. Tujuannya agar nelayan dapat beraktivitas dengan tenang tanpa diganggu.

Lalu, Dukun Darat melakukan upacara penimbongan untuk makhluk halus yang tinggal di darat. Tujuannya supaya mereka tidak mengganggu petani dan warga setempat. Sesaji diletakkan di atas rumah-rumahan dari kayu menangor atau penimbong. Saat upacara ini, digelar berbagai tari-tarian tradisional yang memiliki makna masing-masing.

Kemudian, baru acara masuk ke kegiatan inti berupa perang ketupat. Dilaksanakan di Pantai Tempilang, upacara dibuka dengan pertunjukan Tari Serimbang sebelum peperangan dimulai.

Ketupat digunakan sebagai senjata dengan cara dilemparkan kepada peserta lain. Acara tersebutlah yang menginspirasi nama dari tradisi penolak bala satu ini. Karena dilakukan bersama-sama untuk mengharapkan kebaikan bersama, tradisi perang ketupat juga memiliki makna kesatuan dan rasa gotong royong.

Terakhir, warga akan melarungkan perahu mainan dari kayu ke laut atau nganyot perae untuk memulangkan makhluk halus yang bertandang ke Desa Tempilang. Terutama yang memiliki niat jahat supaya tidak mengganggu warga. Keunikan dari tradisi ini adalah saat melakukan ritual, para dukun akan mengalami trance atau keadaan tidak sadar secara bergiliran sehingga peserta akan dihadapkan pada suasana mistis. Keunikan lainnya adalah terdapat banyak pertunjukan tari tradisional, mulai dari Tari Serimbang, Tari Campak, Tari Kedidi, hingga Tari Seramo.

Dengan mengetahui ulasan di atas, selain menikmati pemandangan alam Bangka Belitung, Anda yang hendak bepergian ke sana juga dapat merasakan keunikan budaya masyarakatnya. Anda dapat berkunjung ke Desa Tempilang untuk menyaksikan langsung tradisi perang ketupat menjelang bulan Ramadan setiap tahunnya.

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.