Ingin Tahu Teh Indonesia? Kenalan Dengan Acteavist Indonesia

Tikum Komunitas – Berbagai sumber literasi dan sejarah menuliskan, Teh sering dianggap sebagai minuman khas negeri Ratu Elizabeth II. Namun, sebenarnya sejarah teh dimulai dari negeri Cina.

<img data-lazyloaded=
Secangkir Teh

Menurut legenda, pada tahun 2737 SM, kaisar Tiongkok Shen Nung sedang duduk di bawah pohon ketika beberapa daun dari pohon itu tertiup ke dalam air, sementara pelayannya sedang merebus air minum. Shen Nung yang juga seorang Herbalis terkenal memutuskan untuk mencoba infus daun-daun itu kedalam minuman yang tidak sengaja dibuat oleh pelayannya.

Pohon itu adalah Camellia Sinensis, dan minuman yang dihasilkan dari peristiwa itu adalah yang sekarang kita sebut sebagai Teh.

Beberapa orang masih merasa mustahil tentang kebenaran dalam cerita ini. Akan tetapi tradisi minum teh telang berlangsung di Cina selama berabad-abad bahkan sebelum terdengar di dunia bagain barat. Wadah untuk teh telah ditemukan di makam yang berasal dari dinasti Han (206 SM – 220 M), tetapi di bawah dinasti Tang (618-906 M), Teh dimulai dan sudah menjadi minuman nasional dari Cina.

Pada abad kedelapan seorang penulis China bernama Lu Yu, pernah menulis buku pertamanya tentang Teh yang berjudul ‘Ch’a Ching’ atau Teh Klasik. Tak lama setelah itu, teh pertama kali diperkenalkan ke Jepang oleh biksu Buddha Jepang yang telah melakukan perjalanan ke Cina untuk belajar. Hingga akhirnya minum teh telah menjadi bagian penting dari budaya Jepang, seperti yang terlihat dalam perkembangan upacara minum Teh, yang mungkin berakar pada ritual yang dijelaskan dalam Ch’a Ching.

Indonesia sendiri merupakan negara produsen teh terbesar ke-7 di dunia. Teh Indonesia bahkan disebut memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan teh negara lain. Jenis-jenis Teh yang popular di Indonesia adalah Teh Hijau, Teh Hitam, Teh oolong, Teh Putih dan Teh Jahe.

Dewan Teh Indonesia sebagai wadah seluruh stakeholders agribisnis teh, senantiasa terus berperan untuk menampung aspirasi dan mensinergikan para pemangku kepentingan industri teh serta mendorong memfasilitasi dan memperjuangkan kepentingan pelaku agribisnis dalam mewujudkan sistem dan usaha agribisnis teh yang berdaya saing dan berkelanjutan. Agar semakin seru dan menyenangkan mempelajari Teh Indonesia, mari kita juga berkenalan dengan komunitas para pencinta Teh Indonesia dari ACTEAVIST Indonesia.

Acteavist, Komunitas Pecinta Teh Milenial di Indonesia

Berdirinya Acteavist Indonesia sejak Agustus 2019. Komunitas ini berisi anak-anak muda dan Milenial yang mulai suka mengkonsumsi teh Indonesia. Kesepakatan membuat komunitas ini awalnya ketika Cakra, Mayda dan Jessica berkumpul disalah satu kedai teh dikawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Ketiga orang ini sebelumnya pernah bertemu dalam kelas teh maupun event-event pameran teh dan akhirnya sepakat membuat komunitas yang memang awalnya berisi alumni-alumni kelas teh yang pernah diikuti. Para alumni tersebut menginginkan adanya tukar menukar informasi mengenai teh, baik itu minum teh single origin, tea blend sampai dengan tea mixology dan akhirnya dibuatlah grup komunikasi grup melalui aplikasi WhatsApp dan akun sosial media Instagram.

<img data-lazyloaded=
(Indonesia Tea Festival 2019)

Tujuan berdirinya Acteavist Indonesia semata-mata untuk merangkul mereka yang mulai memiliki kesadaran untuk meminum teh Indonesia dengan kualitas yang baik.

Para anggota komunitas di WhatsApp Grup (WAG) pun cukup banyak dengan berbagai latar belakang yang cukup beragam Mulai dari genre, usia dan profesi. dengan usia rata-rata usia dari 18-45 tahun, dengan profesi seperti penikmat teh, petani teh, pemilik kedai teh, peracik teh, pemilik merk teh, maupun masyarakat awam yang punya niat tinggi untuk mau belajar tentang Teh.

Setelah membuat WAG dan akun Instagram pasca obrolan singkat di sebuah kedai teh di daerah Cipete tersebut, akhirnya diketahui bahwa dari banyaknya teman-teman yang masih belum tahu tentang teh dan tertarik dengan dunia teh. Dari situ Acteavist mulai membantu mempromosikan kelas-kelas teh yang diselenggarakan oleh para pegiat teh Indonesia.

Ada juga yang bertanya tentang dimana saja letak kedai-kedai teh, lalu Acteavist mencoba mencari tahu dan mengkompilasi beberapa kedai teh yang bisa juga dijadikan sebagai referensi untuk minum teh. Semuanya kami promosikan melalui diskusi WAG maupun Instagram.

Acteavist juga ingin membantu menginformasikan kelas-kelas Teh, karena kebanyakan orang yang mau berbagi pengetahuan tentang Teh hanya berada beberapa kota seperti di Jakarta, Jawa Barat dan sedikit di Jawa Tengah. Padahal banyak orang yang mau belajar tentang teh bukan hanya dari daerah tersebut, seperti Sumatera Selatan hingga Papua. Semangat mereka untuk belajar Teh Indonesi harus kita jaga melalui kelas belajar Teh secara online.

<img data-lazyloaded=
(Kelas Belajar Online)

Tujuan lainnya adalah Acteavist dibentuk karena melihat kondisi perkebunan teh yang sudah banyak beralih fungsi dan para petani yang dirasa masih jauh dari sejahtera. Jadi, kurang lebih Acteavist bisa disebut juga sebagai agen promosi Teh Indonesia. Ketika promosi berhasil tentu akan membentuk pasar dan ekosistem di hilir yaitu masyarakat penikmat Teh. Jadi otomatis ketika ini sudah terbentuk nantinya akan ada permintaan kepada mereka produsen atau brand yang di hulu, harapannya kesejahteraan petani teh pun ikut meningkat serta mereka yang menjalankan bisnis di industri teh di tanah air mampu mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih baik.

Saat ini members pada aplikasi WAG sudah berisi 200 peserta dan akun Instagram Actevist sudah memiliki follower sebanyak 3200. Para members ini tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Bali, dan beberapa daerah lain.

Untuk diketahui, Acteavist tidak mengggunakan sistem chapter dalam penyebaran anggota, tapi mereka punya istilah ‘Teh Darat’ untuk teman-teman yang dalam satu wilayah domisili jika ingin melakukan pertemuan. Dalam artian, berkunjung ke kedai teh bersama dalam satu daerah atau ketika ada teh baru yang mereka coba untuk ‘icip-icip’ bersama.

Secara struktur Acteavist memang tidak mengangkat atau melantik seorang ketua secara resmi, tapi seiring berjalannya waktu, mereka memiliki 5 orang tim kecil yang mau menjadi penggagas ide-ide baru yang bisa dibuat untuk dunia teh. Ada Cakra, Jessica, Mayda, Michael dan Muthia.

Kami sempat bertanya kepada salah satu Founder komunitas mengenai apa yang membedakan komunitas dengan komunitas lainnya? Dan jawaban dari Bapak Cakra adalah

“Ya mungkin karena kita lebih spesifik ingin sama-sama belajar dan mengenal teh Indonesia lebih jauh. Sebenarnya ada komunitas pecinta teh namanya. Ini dibuat jauh sebelum acteavist berdiri.

Yang membedakan dengan komunitas tersebut mungkin adalah ACTEAVIST berisi anak-anak milenial yang tentu jokes ketika diskusi ya punya jokes ala-ala Milenials.”

Cakra menambahkan, “Berdirinya Acteavist Indonesia ingin memperkenalkan teh Indonesia lebih luas lagi. Karena selama ini, walaupun teh adalah minuman nomor 2 yang paling sering dikonsumsi setelah air putih, banyak orang yang berpersepsi bahwa “Oh, teh itu ya minuman biasa aja” ngapain sih minum teh, wong harganya murah.”

Selain itu masyarakat juga masih menganggap bahwa teh hanya dianggap sebagai minuman penyegar atau untuk menghilangkan dahaga semata, bukan sebagai minuman yang mendatangkan manfaat baik bagi tubuh.”

Berdirinya Acteavist Indonesia dengan semangat bisa saling mengedukasi dan sarana belajar masing-masing members tentang teh Indonesia. Karena memang dibutuhkan edukasi secara luas terkait pengenalan teh di Indonesia, sehingga masyarakat akhirnya mendapatkan informasi yang benar, baik itu manfaat teh hingga bagaimana penyeduhan teh yang baik dan benar. Padahal teh Indonesia memiliki kualitas yang bagus.

Sayangnya, Teh yang memiliki kualitas bagus tersebut lebih banyak diekspor ketimbang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, dan dibutuhkan promosi untuk Teh Indonesia agar khalayak luas tahu tentang keberadaan Teh Indonesia. Ketika edukasi dan promosi sudah tersampaikan dengan baik, harapannya adalah Teh bisa dijadikan sebagai lifestyle layaknya minuman Kopi.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, komunitas ini punya banyak kegiatan dan event. Berikut diantaranya:

  • April 2020, membuat kampanye MINUM TEH INDONESIA. Jadi kami minta video dari teman-teman acteavist untuk minum teh Indonesia dan seolah-olah memberikannya kepada yang orang lain.
  • Mei 2020, membuat Festival Teh Ngabuburit Online selama bulan Ramadhan dengan tema SISI LAIN CAMELIA SINENSIS. Dibulan yang sama Acteavist juga melakukan aksi sosial memberikan donasi teh kepada para tenaga kesehatan dibeberapa rumah sakit di Indonesia.
  • Agustus 2020, Virtual tour ke beberapa kedai teh di Indonesia
  • Oktober 2020, bekerjasama dengan IDTEAFEST kami menyelenggarakan Kompetisi Peracik Teh Indonesia pada tahun 2020. Jadi ini adalah kompetisi online tea blend di Indonesia. Ekspektasi kami waktu itu hanya diikuti oleh 50 peserta, tapi alhamdulillah diikuti lebih dari 70 peserta.
  • Januari 2021, mengikuti pameran virtual yang diselenggarakan oleh PPTK Gamboeng.
  • Maret 2021, menyelenggarakan JOGJA TEA FESTIVAL. Ini adalah festival teh offline yang kami selenggarakan di Jogja, yang isinya ada pameran, diskusi teh, workshop teh, hingga kompetisi tea mixology.
  • April 2021, menyelenggarakan festival teh ngabuburit yang kedua dengan mengambil tema Kolaborasi Teh dan Industri Kreatif Indonesia. Pembicaranya adalah orang-orang teh dan mereka yang memiliki usaha bergerak berjalan bersama dengan dunia teh sebagai pendukungnya.
  • Agustus 2021, menyelenggarakan #rayakansenang untuk memperingati 2 tahun berdirinya acteavist Indonesia. Disitu ada diskusi mengenai pariwisata kebun teh yang diisi oleh Erix Soekamti (Vokalis Endank Soekamti) karena dipandang mampu menggerakan perekomian masyarakat perbukitan menoreh Yogyakarta dengan membuat destinasi wisata baru di kebun teh Nglinggo. Diisi juga penampilan komika Denny Gitong dalam segmen ketawa online.
  • Oktober-Desember 2021, saat ini kami sedang menyelenggarakan kembali kompetisi peracik teh 2021. Alhamdulillah, baru 1 hari dibuka pendaftaran sudah terjual tiket sebanyak 30%
<img data-lazyloaded=
(Jogja Tea Festival 2021)
<img data-lazyloaded=
(Donasi pucuk teh terbaik untuk tenaga kesehatan di Puskesmas Surabaya)
<img data-lazyloaded=
(Donasi pucuk Teh terbaik untuk tenaga kesehatan di RSCM)
<img data-lazyloaded=
(icip-icip Teh bersama)

Di WAG para member bisa saling berinteraksi, setiap minggu komunitas ini melakukan diskusi secara online dengan topik yang berbeda sehingga grupnya aktif. Sedangkan di Instagram mereka rutin juga melakukan LIVE IG teatalk. Baik itu bersama pakar teh atau siapapun itu yang beririsan dengan dunia the seperti pelaku industri kreatif, wartawan dan sebagainya.

Bagaimana Sobattikum, seru dan menyenangkan bukan aktivitas komunitas ini. Nah, bagi Anda yang cinta Teh Indonesia dan ingin bergabung bisa menghubungi admin mereka melalui instagram @acteavist untuk selanjutnya diproses masuk dalam grup.

Nantinya, Anda akan diminta untuk mengisi formulir data diri. Hanya untuk mengetahui nama, kenapa suka teh, apa tujuan gabung dengan Acteavist, berasal darimana, aktivitas sehari-hari didunia teh sebagai apa. Sangat mudah bukan.

Kami bangga bisa turut memperkenalkan komunitas Acteavist kepada masyarakat Indonesia. Semoga di masa depan akan banyak lembaga negara, swasta dan pihak-pihak lain yang akan ikut serta mendukung program dan kegiatan komunitas ini dalam memberdayakan Teh Indonesia.

Sudahkah Sobattikum minum Teh hari ini?

We are like Tea, we don’t know our own Strength until we’re in Hot Water

Sister Busche
Anda mungkin suka