Stereotip Bursa Transfer Pemain 5 Klub Sepakbola Eropa

Lima klub besar di Eropa ini punya ciri khas dalam melakukan bursa transfer pemainnya. Kira-kira, apa saja stereotip yang dimaksud?

Tikum.id Bola – Lima klub besar di Eropa ini punya ciri khas dalam melakukan bursa transfer pemainnya. Kira-kira, apa saja stereotip yang dimaksud?

Masing-masing klub bola pasti menginginkan hanya pemain terbaik yang masuk ke dalam klubnya. Selain prestasi pemain, biasanya biaya transfer dan gaji pemain juga menjadi pertimbangan klub dalam merekrut seorang pemain.

Tentunya hal-hal basic seperti itu sudah menjadi pegangan klub mana pun, termasuk klub-klub besar asal Eropa. Akan tetapi, klub-klub kenamaan berikut memiliki kebiasaan masing-masing dalam merekrut pemain. Bahkan kebiasaan itu bisa jadi bad luck untuk klub. Klub apa saja dan stereotip apa yang dimiliki klub tersebut? Berikut ulasannya.

A.S. Roma

Klub Italia asuhan José Mourinho ini memang terkenal cukup ambisius, meski di liga Serie A musim lalu mereka harus puas di posisi ke-6.

Terkait transfer pemain, klub yang bermarkas di Stadio Olimpico ini mendapat julukan sebagai ‘panti jompo’. Hal ini terkait dengan masuknya Nemanja Matic dari skuad Manchester United ke dalam klub ini.

Julukan panti jompo ini hadir mengingat usia Matic yang tidak lagi muda. Midfielder asal Serbia tersebut diketahui akan berusia 34 tahun Agustus mendatang.

Sebelum Matic, ada sejumlah pemain lain yang membuat A.S. Roma diyakini jadi ‘panti jompo’. Sebut saja Edin Dzeko, Chris Smalling, Ashley Cole, dan Henrikh Mkhtitaryan.

Chelsea

The Blues juga dinilai punya ciri khasnya tersendiri dalam melakukan transfer pemain. Sayangnya, tim ini tidak memiliki stereotip yang bagus, sebab Chelsea sering kena apes pasca merekrut pemain-pemain top.

Sebut saja Fernando Torres, Romelu Lukaku, hingga Timo Werner—ketiganya dinilai kurang memberikan performa terbaiknya dalam tim yang kini diasuh Thomas Tuchel ini.

Untungnya, Chelsea punya bujet besar dalam merekrut pemain. Jadi, klub ini tidak perlu terlalu khawatir meski pemain-pemainnya berperforma memble—selalu ada bujet untuk merekrut pemain-pemain baru yang diyakini mampu berperforma optimal. Semoga saja tidak apes lagi, ya!

Borussia Dortmund

Dari Jerman, klub Borussia Dortmund juga dinilai punya ciri khas dalam rangka transfer pemain.

Klub ini dikenal sebagai klub ‘batu loncatan’. Artinya, banyak pemain yang direkrut Dortmund bakal berlaga di klub-klub besar setelah bermain untuk klub yang bermarkas di Signal Iduna Park ini.

Julukan ‘batu loncatan’ ini terakhir dikuatkan dengan bergabungnya Erling Haaland ke Manchester City. Pemain asal Norwegia kelahiran 2000 ini bergabung ke Manchester City pasca sukses mengantar Dortmund ke peringkat dua Bundesliga musim silam (2021/2022).

Sebagaimana diketahui banyak orang, Borussia Dortmund sendiri merupakan salah satu klub bola Eropa yang terkenal. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan klub seperti Manchester United, Real Madrid, Dortmund masih belum punya popularitas sebesar itu. Tak heran jika banyak pemain muda mau berkarir di klub ini, sebelum akhirnya hengkang untuk bermain di klub yang lebih besar.

AC Milan

Selain AS Roma dengan stereotip panti jomponya, AC Milan juga sering dikaitkan dengan stereotip tertentu. Klub dengan julukan Rossoneri ini sering kali dikaitkan dengan ‘gaji UMR’ yang diterapkan dalam merekrut pemain-pemainnya.

‘Gaji UMR’ ini merujuk pada standar tertentu yang dimiliki Milan dalam memilih pemain-pemainnya. Terkait hal ini, Paolo Maldini menyebutkan bahwa hal ini berkaitan dengan kondisi finansial internal ‘pas-pasan’ yang dimiliki Milan. Cukup banyak pemain Milan yang rela menurunkan standar gajinya demi bergabung di klub ini.

Meski ini berpotensi membuat Milan tidak bisa mendapatkan pemain bernama besar, hal ini dinilai Maldini mampu membuat timnya ‘menyaring’ pemain yang benar-benar ingin bergabung untuk berkarir dengan Milan—bukan sekadar bergabung karena uang semata.

Intermilan dan Juventus

Siapa, sih, yang tidak suka gratisan? Dua klub bola asal Italia ini juga doyan juga dengan pemain-pemain berstatus bebas transfer. Tentunya, dua klub ini tidak serta merta merekrut pemain yang sedang berstatus bebas transfer saja. Track record pemain pun juga menjadi hal yang dipertimbangkan.

Tak heran, meski merekrut tanpa perlu bayar biaya transfer, dua klub ini masih saja berjaya di Serie A musim 2021/2022. Dua klub ini konsisten masuk lima peringkat teratas liga tersebut sejak musim 2017/2018.

Anda mungkin suka