Maju Sebagai Kandidat Presiden Federasi Sepakbola Kamerun, Ini Rekam Jejak Samuel Eto’o

Tikum Bola – Mantan pemain Barcelona dan Inter Milan, Samuel Eto’o, maju sebagai kandidat presiden Federasi Sepakbola Kamerun. Begini rekam jejak sang legenda.

Pekan lalu, Samuel Eto’o menyatakan dirinya maju sebagai kandidat presiden Federasi Sepakbola Kamerun atau Fecafoot. Ia mengumumkan rencana tersebut melalui akun Instagram pribadi dan menyatakan alasan cinta dan passion terhadap dunia sepakbola Kamerun.

“Waktu terus berjalan. Menunggu bukan lagi sebuah pilihan. Ini waktunya membangun kembali sepakbola kita,” tulis Eto’o. Setelah sempat tertunda, pemilihan Fecafoot direncanakan jatuh pada 11 Desember, diikuti penyelenggaraan Africa Cup of Nations di Kamerun pada 9 Januari.

Berita Eto’o ini tentu tidak mengherankan mengingat ia punya karier cemerlang selama aktif sebagai pesepakbola profesional. Bagaimana rekam jejaknya?

Ditemukan Real Madrid, Bersinar di Mallorca

Tidak banyak yang tahu bahwa Real Madrid lah yang pertama kali menemukan Eto’o. Dari pelatihan di Kadji Sports Academy, Kamerun, Eto’o bergabung dengan akademi sepakbola Real Madrid tahun 1997. Namun, ia hanya bisa bermain bersama Real Madrid B.

Eto’o pun menjalani sejumlah penampilan di klub lain dengan status pemain pinjaman. Tercatat ia pernah dipinjamkan ke Leganés, Espanyol, dan Mallorca. Di Mallorca permainan Eto’o mulai berkembang dan memutuskan untuk menandatangani kontrak empat tahun bersama Mallorca pada 2000-2004.

Pemain kelahiran Kamerun 40 tahun lalu ini membukukan 165 penampilan dan 70 gol sepanjang berkarier bersama Mallorca. Bahkan, ia membawa klubnya menjuarai Copa del Rey pada musim 2002/03. Bisa dibilang di Mallorca justru sinar Eto’o semakin cemerlang dan sukses menggaet perhatian klub besar Eropa, termasuk Barcelona.

Legenda Hidup Barcelona

Sebagai penyerang, Eto’o telah membuktikan ketajamannya bersama Mallorca. Performa apik selama empat musim merumput di sana membuat Barcelona berani memboyong Eto’o senilai 24 juta Euro. Padahal, pada waktu bersamaan, Real Madrid berniat membawa sang penyerang pulang ke Santiago Bernabeu. Namun, ia memilih berlabuh ke seteru abadi Madrid.

Pilihan Eto’o dinilai tepat. Bersama Barcelona, kariernya melesat cepat bak roket. Musim kedua dengan tim kebanggan Catalan, ia meraih gelar Champions League 2005/06. Bahkan, ia mencetak satu gol penting di partai final yang menjadi titik balik Barcelona menundukkan Arsenal.

Sempat meredup karena mengalami cedera lutut, Eto’o harus beristirahat cukup lama untuk memulihkan kakinya. Segera setelah ia kembali merumput di lapangan hijau, Eto’o sukses membawa Barcelona mengukir sejarah di musim 2008/09. Kala itu Barcelona meraih treble winner dengan mengawinkan tiga gelar sekaligus: La Liga, Copa del Rey, dan Champions League.

Melegenda di Barcelona justru mendorong kepindahan Eto’o ke Inter Milan. Keputusan itu berakhir manis karena musim 2009/10 ia menghadiahkan Inter Milan treble winner. Meskipun begitu, ia hanya melewati dua musim dengan Inter Milan.

Selepas Inter Milan, karier Eto’o meredup perlahan. Tidak ada lagi trofi yang ia raih bersama klub yang dibela. Ia pun pindah ke beberapa klub, seperti Anzhi Makhachkala, Chelsea, Everton, Sampdoria, Antalyaspor, Konyaspor, dan terakhir Qatar SC. Tepat pada 7 September 2019 Eto’o memutuskan gantung sepatu.

Mengharumkan Nama Kamerun

Di tim nasional Kamerun, raihan prestasi Eto’o sukses melampaui sang legenda Roger Milla. Ia menghadiahi Kamerun tiga gelar bergengsi, yaitu African Cup of Nations tahun 2000 dan 2002, serta Medali Emas Olimpiade Sydney tahun 2000.

Sebagai individu pun pencapaian Eto’o begitu mentereng. Bukan hanya tercatat sebagai empat kali Pemain Afrika Terbaik (2003, 2004, 2005, 2010), ia juga pernah meraih Bronze Award FIFA World Player of the Year tahun 2005.

Menarik untuk dinantikan bagaimana rencana Eto’o untuk memajukan sepakbola tanah kelahirannya. Meskipun begitu, ia masih harus bersaing dengan kandidat lain yang tak kalah kuat, seperti Jules Denis Onana, Emmanuel Maboang Kessack, Seidou Mbombo Njoya (presiden Fecafoot saat ini), hingga Ivo Chi.

Semoga saja ia berhasil meyakinkan para petinggi federasi sepakbola dan masyarakat Kamerun untuk meraih posisi bergengsi tersebut!