Public Figure Perempuan yang Lantang Suarakan Pemberdayaan Perempuan

Tikum.id Woman – Pemberdayaan perempuan masih saja menjadi isu di masyarakat. Lewat privilege dan platform yang dimiliki, public figure ini lantang suarakan pemberdayaan perempuan.

Beberapa waktu terakhir isu mengenai kesetaraan hak dan pemberdayaan perempuan meningkat. Meski begitu, dalam praktiknya, masih cukup banyak tantangan dan penolakan dari berbagai pihak di masyarakat. Berbagai suara wanita di beberapa ruang masih sangat terbatas dan bahkan sama sekali dikekang.

Fenomena ini menjadi perhatian oleh banyak mata. Beberapa pihak yang memiliki privilege memanfaatkan keistimewaan yang dimiliki untuk ikut menyuarakan pemberdayaan perempuan. Beberapa public figure berikut misalnya, adalah tokoh-tokoh yang cukup lantang dan konsisten dalam menyuarakan dan memperjuangkan pemberdayaan perempuan lewat berbagai platform dan cara.

Cinta Laura

Cinta Laura Kiehl atau yang biasa dipanggil Cinta Laura adalah model, penyanyi, dan aktris berbakat dan cerdas. Tak cuma di situ, perempuan kelahiran 17 Agustus 1993 ini juga sangat peduli terhadap isu-isu sosial, termasuk masalah pada perempuan. Dia bahkan pernah melakukan kampanye Act of Love yang bertujuan memotivasi perempuan Indonesia untuk lebih mencintai diri sendiri.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pun menobatkan Cinta sebagai Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Peran ini pun membuat Cinta menjadi lebih vokal dan banyak melakukan berbagai kegiatan untuk menyebarkan dan mendukung pemberdayaan terhadap wanita.

Hannah Al Rashid

Aktris, model, pembawa acara, dan aktivis Indonesia kelahiran London ini termasuk aktif mengikuti kegiatan Women’s March. Hannah tak ragu untuk ikut turun ke jalan dan menyuarakan hak-hak perempuan dengan lantang. Dalam akun media sosial pribadinya pun, Hannah kerap memberikan pandangannya dalam isu pemberdayaan perempuan dan kasus kekerasan seksual.

Public figure ini secara terang-terangan pula mengakui bahwa dirinya seorang feminis. Termasuk saat isu mengenai Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) sempat memanas, Hannah terus mendesak disahkannya RUU tersebut. Pun saat akhirnya aturan tersebut sah menjadi Undang-Undang, Hannah tetap konsisten menyuarakan pemberdayaan perempuan di berbagai isu lainnya.

Dian Sastrowardoyo

Selain kecantikan dan kepiawaiannya dalam dunia film, Dian Sastro juga dikenal sebagai public figure yang aktif membela hak-hak perempuan dan anak. Perjuangannya pun kerap bersinggungan dengan dunia pendidikan—yang diyakini sebagai “senjata utama” untuk membangun pemberdayaan.

Dian Sastro menjalin kerja sama dengan Kitabisa.com dan Hoshizora selama bertahun-tahun memberi beasiswa. Adapun beasiswa ini ditujukan untuk perempuan yang kurang mampu terutama dari segi finansial untuk tetap dapat memperoleh pendidikan yang layak dan setara.

Wanda Hamidah

Kini menjadi seorang politikus, Wanda Hamidah sebelumnya lebih dikenal karena prestasinya di dunia keartisan dan modeling. Meski begitu, kepekaan Wanda terhadap isu sosial sudah dimulai sejak sangat lama. Perempuan kelahiran 21 September 1977 ini bahkan dulu menjadi aktivis yang turun saat demo 1998 lalu.

Wanda Hamidah boleh jadi tidak terlihat sevokal beberapa public figure lain yang lebih muda, tetapi bukan berarti dirinya kehilangan feminisme. Bahkan, Wanda pernah secara terang-terangan dalam suatu wawancara menyatakan bahwa dia mendidik keempat anak laki-lakinya sebagai seorang feminis yang menghargai dan mendukung kesetaraan serta hak-hak perempuan.

Najwa Shihab

Jurnalis senior ini menjadi idola banyak kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, terutama di kalangan muda. Selain itu konsistensi, Najwa dalam terus berupaya mendukung kesetaraan perempuan lewat berbagai platform yang dimilikinya juga menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagi banyak orang.

Najwa pun menjadi salah satu public figure yang memiliki sangat banyak quotes terkait isu-isu pemberdayaan. Beberapa di antaranya adalah, “Saat pembangunan meperparah kemiskinan, ada perempuan yang utama menjadi korban,” “Tak akan ada pemberdayaan lebih kekal berkelanjutan, tanpa melibatkan perempuan,” dan yang paling populer, “Dalam narasi-narasi hidup yang nyata, perempuan menjadi kekuatan tak terbatas.”