Perempuan Indonesia Pada Dunia Konservasi Jakarta Aquarium Safari

Tikum Animal Lovers – Mengunjungi Jakarta Aquarium & Safari (JAQS), di Neo Soho Mall, Jakarta Barat, Anda bisa bertemu langsung dengan lebih dari 3500 spesies satwa akuatik maupun non-akuatik, bahkan yang hampir punah dan mungkin Anda belum pernah dengar namanya atau melihat wujudnya seperti apa. Tidak hanya melihat saja, para pengunjung pun juga bisa berinteraksi langsung dengan aneka satwa.

Seluruh satwa tersebut selalu dalam kondisi yang sehat dan optimal. Tentunya ada orang-orang di balik kesejahteraan para satwa pada dunia konservasi ini, tahukah Anda, ada juga kontribusi para perempuan Indonesia dengan sentuhan kelembutan dan cinta kasihnya? Siapa sajakah mereka?

Lindiana, Merawat Satwa dengan Cinta

Di balik seluruh satwa-satwa yang sehat terdapat jerih payah para Aquarist yang merawatnya. Salah satunya adalah Lindiana, akrab dipanggil Lin, yang mengawali kariernya di JAQS sebagai JAQS Buddy (pemandu) selama dua tahun.

Lindiana sangat cinta terhadap satwa dan tertarik untuk terjun sebagai Aquarist. Ia mulai mengambil sertifikasi selam dan belajar lebih dalam mengenai perawatan satwa. “Saat menjadi GSA di JAQS, saya banyak mempelajari tentang satwa dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada pengunjung. Namun, karena seringnya saya bertemu dengan para satwa, saya memiliki rasa ketertarikan dan rasa ingin tahu lebih dalam mengenai para satwa. Karena hal tersebut saya ingin menjadi seorang Aquarist. Berbagai usaha saya lakukan, mulai dari mengambil sertifikasi selam, belajar mengenal sifat satwa, hingga belajar bagaimana cara merawat para satwa. Saya pun mempunyai harapan yang besar untuk melindungi hewan-hewan yang terancam punah,” ujarnya.

Tugas dan tanggung jawab Lin sebagai aquarist diantaranya menyiapkan pakan satwa, memberi makan secara teratur, membersihkan exhibit satwa, hingga melakukan observasi jika ada satwa yang sedang sakit.

Sebagai seorang Aquarist, tentunya Lin merasakan suka dan duka dalam menjalani profesinya. “Untuk suka, saya sangat suka menyelam sehingga saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke pulau untuk pergi menyelam. Sedangkan, untuk dukanya saya sangat merasa sedih ketika melihat satwa tidak mau makan hingga sakit,” tutur Lin.

Lin juga merawat bayi-bayi satwa yang baru lahir hingga bisa mandiri. Contohnya, saat ini ada bayi-bayi berang-berang yang sedang dirawatnya. “Merawat satwa dari bayi itu tantangannya adalah si satwa harus lebih diperhatikan dan berhati-hati karena masih sangat rentan dibandingkan satwa dewasa, apalagi bayi sangat manja dan ingin terus disayang-sayang atau dielus. Momen bahagia dan suka saya, bisa melihat perkembangan bayi satwa dari waktu ke waktu, yang tadinya belum bisa buka mata sampai bisa ikut jalan ke mana pun saya pergi,” tutur Lin.

Profesi yang dilakukan Lin, merupakan profesi yang sangat unik apalagi untuk kaum perempuan. Tidak banyak, sosok perempuan hebat seperti Lin yang berdedikasi tinggi dan memiliki keberanian yang besar untuk merawat para satwa. Profesi ini, menuntut kemampuan fisik yang seringkali menjadi keterbatasan sebagai wanita.

Segala tantangan dan rintangan dalam profesinya sebagai seorang Aquarist tidak melunturkan semangat Lin dalam berkarya. Menurut Lin, peran wanita memiliki andil yang cukup besar dalam profesinya. Kaum perempuan dapat menjadi sosok hebat, turut berkontribusi dalam menjaga dan merawat seluruh satwa, terutama para satwa yang telah terancam punah. “Menurut saya peran perempuan dalam aksi pelestarian satwa atau konservasi itu harus ya, ada sifat keibuan yang dihadirkan perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Selain itu, supaya tercipta keseimbangan dalam menjaga dan merawat para satwa. Karena, kita setara,” tuturnya.

JAKARTA AQUARIUM & SAFARI 2

Dokter Hewan Novi, Ikut Sedih Ketika Satwa Sakit

Seluruh satwa di JAQS bisa menyapa Anda karena kondisi mereka yang sehat dan optimal. Di balik satwa-satwa yang beraneka ragam serta unik itu, Anda bisa menemui sosok dokter hewan yang sangat sabar, terampil merawat, dan mengobati seluruh satwa di JAQS.

Namanya drh. Novi Tandria, seorang dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Bergabung dengan JAQS pertama kali di Mei 2018. Sempat jeda, kini drh. Novi kembali lagi bekerja sama dengan JAQS.

Kecintaannya pada satwa liar, membuat Novi jatuh cinta pada profesinya. “Sewaktu kuliah saya mengikuti himpunan minat dan profesi satwa liar karena saya tertarik sekali dengan satwa liar dan konservasi. Sebelum bergabung dengan JAQS, saya punya pengalaman kerja di praktisi hewan kecil sekitar enam tahun namun merasa tertantang berhadapan dengan satwa liar. Nah, begitu diberikan kesempatan bekerja di JAQS, saya merasa ini merupakan kesempatan saya ikut melestarikan keberadaan satwa liar,” ujarnya.

Tanggung jawab dan peran Novi sangat besar terhadap seluruh satwa di JAQS, baik satwa akuatik maupun terestrial. Karena JAQS merupakan lembaga konservasi bagian dari Taman Safari Indonesia (TSI) grup, Novi berkoordinasi dengan para dokter hewan di TSI untuk mengatur manajemen kesehatan hewan, termasuk pengobatan hewan sakit, preventif dengan pemberian obat cacing, water treatment, dan menjaga kualitas air, berkoordinasi dengan tim water quality.

Sebagai seorang dokter hewan, tentunya Novi merasakan berbagai suka dan duka dalam menggeluti profesinya. “Untuk sukanya, saya sangat senang karena bisa berada dekat dengan hewan. Sedangkan untuk dukanya, saya sangat sedih ketika hewan sakit dan terlihat perubahan perilaku dari normalnya,” tutur Novi.

Profesi Novi, merupakan profesi yang sangat unik apalagi untuk kaum perempuan. Tidak banyak, sosok perempuan hebat seperti Novi yang berdedikasi tinggi dan memiliki keberanian yang besar untuk menjaga para satwa. Bidang akuatik dan wildlife masih menjadi ranah yg belum banyak dipahami dan menjadi tantangan tersendiri untuk berkarya di bidang tersebut. Justru hal tersebut memotivasi Novi untuk selalu belajar. Selain itu, pekerjaan di JAQS menuntut kemampuan fisik yang seringkali menjadi keterbatasan sebagai wanita.

Menurut Novi, perempuan memiliki peran sebagai penyeimbang dalam dinamika tim yang mayoritas laki-laki. Selain itu juga sebagai wanita membuktikan bahwa peran wanita sebagai dokter hewan bisa memberikan kontribusi maksimal yang sama dengan pria. “Perempuan Indonesia dengan kelembutan serta sekaligus kekuatannya, memberikan kasih sayang dan kemampuan maksimal dalam peran sertanya memelihara dan mengembangbiakkan satwa-satwa Indonesia pada dunia konservasi ini,” tutur Novi.

Evelyn, Menyelam dan Berbagi Emosi dengan Satwa

Mungkin Anda tidak menyangka, ada sosok perempuan tangguh yang rutin menyelam dan memastikan satwa-satwa akuatik terjamin kesehatannya, termasuk memberinya makan. Geraknya terlihat tangguh tapi luwes di saat yang bersamaan.

Sosok salah satu Aquarist di JAQS bernama Evelyn. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang Pariwisata, Evelyn jatuh cinta dengan wisata bahari. Evelyn mengawali kariernya di JAQS pada April 2019 sebagai staf magang dan setelah empat bulan, Evelyn resmi menjadi Aquarist di JAQS.

Kecintaannya pada dunia bahari, membuat Evelyn sangat mencintai profesinya. “Dahulu saat zaman kuliah saya iseng mengikuti unit kegiatan mahasiswa diving, di situ saya mempelajari kemampuan untuk menyelam dengan baik, ketika benar-benar dapat menggunakan skill tersebut untuk mengeksplorasi dunia bawah laut Indonesia, saya jatuh cinta dan ingin mengenal lebih jauh lagi mengenai ekosistem laut. Sehingga di sinilah saya, bekerja di akuarium untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada mereka yang belum pernah merasakannya secara langsung,” ujarnya.

Profesi yang digeluti Evelyn memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap satwa di JAQS. Evelyn secara langsung terlibat dalam kegiatan perawatan biota-biota laut, dimulai dari menjaga kebersihan akuarium, mencoba mempertahankan kemiripannya dengan ekosistem aslinya, kemudian juga melakukan persiapan dan memberikan makanan bagi biota-biota tersebut. Dan yang terpenting adalah melakukan observasi secara terus menerus untuk menghindari biota-biota dari penyakit yang mengancam.

Berprofesi sebagai Aquarist, tentunya Evelyn mengalami pengalaman baik suka maupun duka. “Untuk sukanya adalah momen di mana saya bisa berinteraksi secara langsung dengan biota-biota laut yang cukup susah ditemui secara langsung. Dukanya adalah ketika ada biota yang sudah saya rawat semaksimal mungkin namun karena faktor tidak terduga, harus mati. Apalagi jika satwa yang mati adalah satwa lama yang sudah mampu berinteraksi dengan saya, ada ikatan emosional tersendiri ketika mereka harus mati dan ada rasa bersalah di dalam diri saya karena saya tidak mampu menyelamatkannya,” tutur Evelyn.

Profesi yang dimiliki Evelyn, merupakan profesi yang jarang dilirik kaum perempuan. Kriteria profesi sebagai Aquarist membutuhkan fisik yang cukup kuat seperti mengangkat tabung, suhu air yang cukup dingin, serta tuntutan waktu kerja yang sangat ketat diikuti dengan standart yang cukup tinggi. Justru hal tersebut, membuat Evelyn bisa membuktikan bahwa Ia juga bisa menyesuaikan dan mengikuti standar tersebut dengan cukup baik.

Menurut Evelyn, ia dan kaum perempuan dapat memainkan peran dalam profesi Aquarist dengan baik dikarenakan perempuan cenderung lebih teliti terhadap hal-hal kecil yang sangat berpengaruh dalam dunia perakuariuman, misalnya ia dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan yang tidak biasanya seperti perilaku biota laut, penyakit, dan kotoran pada exhibit. Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi kesejahteraan kehidupan biota-biota laut. Kemampuan tersebut membuat kaum perempuan dapat berkontribusi besar dalam menjaga kelestarian satwa.

Fira Basuki, Head of Social, Branding, and Communication Jakarta Aquarium & Safari berkata, “Jakarta Aquarium & Safari selalu memberi kesempatan kepada para perempuan untuk berkarya, membuktikan kemampuan, dan berkontribusi terhadap pelestarian satwa dan lingkungan. Justru perempuan Indonesia memiliki kelembutan dan keluwesan yang dibutuhkan pada para satwa dan dunia konservasi. Mereka adalah ‘Kartini Modern’ JAQS.”

JAKARTA AQUARIUM & SAFARI 3

Ayu Saraswati, Putri Indonesia Lingkungan 2020 yang merupakan sahabat JAQS dan sering berkunjung ke JAQS yang terletak di Neo Soho Mall, Jakarta Barat ini menyatakan kekagumannya pada sosok-sosok perempuan tangguh di balik dunia konservasi JAQS. “Saya kagum pada para perempuan JAQS karena rasa cinta mereka yang tulus pada para satwa dan alam serta lingkungan dan itu terlihat dari cara mereka bekerja. Setelah mengenal lebih dekat dan mengetahui bahwa tanggung jawab mereka sama dengan rekan kerja mereka yang laki-laki, tanpa perbedaan, terlihat sekali betapa besarnya rasa cinta dan dedikasi mereka,” ujar Ayu.

“Ini menunjukkan perempuan itu mampu berkontribusi dalam pelestarian satwa dan lingkungan. Tantangannya adalah diri sendiri dan pemikiran bahwa masing-masing perempuan memiliki kapasitas yang sama, bahkan lebih, dan ini mematahkan ucapan bahwa wild life adalah dunianya para pria,” tambah Ayu.

Pembuktian mereka terlihat dari kondisi para satwa di JAQS yang sehat, aktif, dan berkembang biak. Ini disetujui oleh Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI).

JAKARTA AQUARIUM & SAFARI 4

Ketua PKBSI, Bapak Rahmat Shah, berkata, “Lembaga konservasi berfungsi sebagai tempat pendidikan, peragaan, penitipan sementara dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in-situ, sarana rekreasi yang sehat, mendidik, dan terjangkau bagi semua kalangan, serta penelitian, peragaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan Jakarta Aquarium & Safari yang merupakan anggota PKBSI, yang memiliki peran fungsi sebagai lembaga konservasi dengan standar internasional yang sangat baik, bahkan lebih baik daripada akuarium yang ada di Singapore dan Malaysia. Jakarta Aquarium & Safari merupakan akuarium indoor modern terbesar yang memiliki lebih dari 3.500 spesies akuatik maupun non-akuatik, yang sudah banyak mendapatkan penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional.”

Harapan Pak Rahmat Shah mengenai peran serta perempuan Indonesia, “Apresiasi juga kami berikan kepada dunia konservasi Jakarta Aquarium & Safari yang telah mengangkat isu tentang keterlibatan dan kepedulian pada para perempuan, Kartini Indonesia terutama di bidang lingkungan, pelestarian satwa dan konservasi, sebagai salah satu wujud meneruskan perjuangan Kartini di era modern. Semoga lebih banyak lagi Kartini-Kartini Indonesia di bidang lingkungan dan pelestarian satwa yang berkontribusi nyata.”

Untuk info lebih lanjut mengenai Jakarta Aquarium & Safari, termasuk kegiatannya, silahkan klik website Jakartaaquariumsafari atau ke Instagram @jakartaaquarium.

Anda mungkin suka