Mengetahui Fakta Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangannya

mengetahui fakta mobil listrik

Tikum EV  – Mobil listrik belakangan meningkat popularitasnya, digadang-gadang sebagai kendaraan masa depan yang ramah lingkungan. Tapi benarkah demikian? Mari kita mengetahui fakta mobil listrik.

Kendaraan bermotor menyumbang 14 persen dari total emisi karbon yang memicu pemanasan global. Mobil menjadi kendaraan penghasil emisi terbanyak sebesar 72 persen, diikuti pesawat terbang sejumlah 10 persen saja.

Melihat kenyataan itu, para praktisi otomotif mulai menginisiasi produksi mobil listrik. Inovasi terbaru ini digadang-gadang sebagai solusi kendaraan ramah lingkungan, guna mencegah makin parahnya kondisi Bumi akibat pemanasan global.

Tapi apakah mobil listrik benar-benar bisa menjadi solusi transportasi masa depan yang ramah lingkungan? Seberapa besar tingkat emisinya ? Lalu bagaimana dengan sumber listriknya ?

Sejarah Perkembangan Mobil Listrik

Perkembangan mobil listrik mustahil lepas dari penemuan baterai primitif Mesopotamia. Lalu Alessandro Volta yang baterai listrik pertama, mengadopsi rintisan Johan Carl Wicke soal alat penghasil muatan listrik. Ada pula Michael Faraday, ilmuwan yang sukses merakit motor listrik pertama. Diikuti penggunaan motor listrik untuk memutar roda yang kemudian melahirkan konsep dinamo.

Rancangan mobil listrik pertama berkembang pada abad ke-18. Ilmuwan pertama yang sukses membangun mobil listrik bernama Robert Anderson, dilanjutkan William Morrison, hingga dikembangkan oleh Ferdinand Porsche. Ketiganya berlangsung pada kurun waktu selama abad ke-19.

Selanjutnya mobil listrik sudah menjadi bagian dari industri otomotif. Sampai belakangan melonjak popularitasnya lewat Tesla Motors dengan tokoh utama bernama Elon Musk. Pabrikan ini memang berkonsentrasi dalam memproduksi unit-unit berbahan bakar listrik.

Terlepas dari semua rentetan sejarah yang mewarnai perkembangannya, mobil listrik tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari mengetahui fakta serta plus minus kendaraan roda empat modern atau mobil listrik satu ini ?

Kelebihan Mobil Listrik

Pada mobil BBM, energi disalurkan melalui proses pembakaran dalam mesin. Bahan bakar fosil akan hilang dalam proses pembakaran, berubah menjadi energi penggerak roda. Inilah mengapa mobil BBM pada akhirnya memicu polusi karbon.

Sementara pada mobil listrik, pelepasan energi tidak berlangsung melalui pembakaran. Energi dari dalam baterai hanya disalurkan untuk membuat roda berputar, sehingga tidak menghasilkan emisi.
Dalam hal operasional, mobil listrik dinilai hemat dan lebih nyaman. Pemiliknya tidak perlu mengisi bensin atau mengganti oli mesin, kecuali perawatan rutin untuk komponen-komponen penggeraknya.

Selain itu, umumnya mobil listrik bebas dari kebisingan. Penumpang dan pengguna jalan lainnya tidak akan terganggu oleh polusi suara dari mesin kendaraan.

Kekurangan Mobil Listrik

Pemilik mobil listrik perlu menyadari bahwa jarak tempuhnya terbatas. Baterai yang terisi penuh umumnya bisa digeber sejauh 120km, konon hanya memakan biaya Rp75 ribu. Sementara dengan harga BBM sekitar Rp10 ribu-an, mobil konvensional bermesin eco-friendly juga mampu mencapai rekor tersebut.

Lalu bagaimana saat daya baterai habis? Sedangkan hingga kini fasilitas pengisian daya belum merata.

Catatan terakhir dari berbagai sumber menyebutkan, baru ada 155 titik SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di Indonesia. Hanya sebagian kecil yang berada di luar Jawa. Di sekitar 18 lokasi yang tersebar di NTB, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku.

Kembali ke pertanyaan semula, benarkah mobil listrik ramah lingkungan? Dilihat dari segi penggunaannya yang bebas emisi, tentu sangat ramah lingkungan.

Masalahnya, sumber energi untuk mengisi daya baterai berasal dari pembangkit listrik yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Begitu pula dalam proses perakitannya, di mana sebagian besar produsen masih memakai sumber energi minyak, gas, dan batu bara. Belum lagi komponennya yang terbuat dari logam, membutuhkan suplai dari tambang-tambang mineral. Sudah menjadi fenomena umum kalau aktivitas pertambangan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Jadi, benarkah mobil listrik ramah lingkungan? Bisakah inovasi terbaru ini menjawab tantangan pemanasan global? Ataukah mungkin cuma komoditas baru yang promosinya mendompleng isu sensitif, agar cepat populer dan laris di pasaran? Semoga tidak demikian.

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.

Anda mungkin suka