Kolaborasi Industri Pariwisata Dengan Pemerintah Untuk Saling Bersinergi

Tikum Travel  – Manusia sejak zaman dahulu telah melakukan perjalanan atau travelling karena berbagai sebab. Misalnya orang-orang ingin bertemu dengan sanak keluarga yang jauh dari tempat mereka tinggal, atau mereka ingin bertemu dengan orang yang mereka sayangi atau mungkin juga karena kebutuhan akan pekerjaan dan juga karena alasan untuk melanjutkan pendidikan, tuntutan pekerjaan dan lainnya.

Di zaman modern, alasan orang melakukan traveling untuk kebutuhan yang lumayan berbeda. Misalnya ingin melihat belahan dunia lain, atau ingin mengedukasi diri dengan mengunjungi kultur yang berbeda. Dari tempat asal si traveller atau ingin melarikan diri dari rutinitas.

Pada saat ini indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Terlihat dengan jumlah orang orang yang melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya. Mobilitas penumpang bandara, stasiun kereta api, dan stasiun bus sering mengalami lonjakan penumpang. Baik saat liburan yang berdurasi beberapa hari atau liburan panjang. Berpergian dengan mudah dengan penerbangan, kereta api, kapal laut dan bus semakin mudah. Menjadi salah satu faktor mendukung terjadinya perjalanan manusia dalam jumlah besar. Coba lihat bagaimana mudahnya sekarang melakukan booking dan konfirmasi. Pemesanan tiket untuk transportasi maupun akomodasi sampai dengan layanan tiket masuk destinasi wisata melalui travel online.

Ditopang dengan kolaborasi antara pemerintah dengan industri pariwisata, diharapkan dapat mendorong masyarakat luas untuk melakukan perjalanan. Serta kemudahan berbisnis di segala bidang yang akhirnya dapat memfasilitasi para Traveller untuk mengunjungi daerah destinasi wisata.

Program pemerintah yang bernama Pesona Indonesia. Baik untuk wisata dalam negeri ataupun Wonderful Indonesia untuk wisatawan mancanegara, ialah demi memperkenalkan Indonesia keluar negeri. Melalui inisiatif berupa acara-acara pameran ataupun konferensi. Agar kepariwisataan Indonesia dapat dikenal dan menciptakan persepsi positif bahwa Indonesia layak untuk dikunjungi.

Tahun 2017 saja, jumlah kunjungan wisata dalam negeri atau domestik mencapai 260 juta orang (Jumlah yang termasuk masa mudik lebaran). Pada tahun 2018, jumlah ini bertambah hingga 275 juta orang. Hal ini tentu dapat menciptakan roda ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan pendapatan negara melalui pajak.

Mungkin dapat disadari betapa begitu banyak hari Libur Bersama yang ditetapkan oleh pemerintah belakangan ini. Tujuannya adalah agar pertumbuhan wisatawan mancanegara dapat lebih dari 13 juta wisatawan, sera memberikan dampak positif bagi devisa negara. Dimana devisa non migas dari sektor pariwisata telah menempati posisi ke 4 dalam APBN.

Masyarakat luas seperti halnya generasi milenial dan post-millenial (Generasi Now) merupakan generasi yang paling menonjol dalam menumbuhkan industri pariwisata. Dari berbagai sumber survey dan statistik menunjukkan betapa travelling menempati posisi penting dalam pengalokasian anggaran belanja. Hal ini disebabkan oleh persepsi generasi tersebut mengkategorikan untuk melakukan perjalan wisata menjadi bagian dari edukasi dan pembelajaran yang berkelanjutan.

Sosial media seperti Facebook, Instagam dan Twitter. Merupakan alat yang dapat mendorong dan mempromosikan masyarakat untuk lebih banyak melakukan kegiatan rekreasi dan perjalanan. Tujuannya lain ialah agar masyarakat di satu daerah lebih mengenal kultur dan budaya masyarakat di daerah lain. Sekaligus menumbuhkan toleransi dengan ragam perbedaan. Kolaborasi pemerintah yang bernama Nawa Cita, diharapkan agar industri pariwisata dengan mudah membangun manusia Indonesia yang berorientasi. Bukan hanya bertumpu pada masyarakat perkotaan namun merata di seluruh daerah di tanah air.

Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 10 destinasi wisata prioritas yakni daerah yang dikembangkan sebagai Bali baru. Diantaranya Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Magelang, Bromo Tengger, Mandalika di Lombok, Labuan Bajo di Flores, Wakatobi di Sulawesi Tenggara dan Morotai di Maluku Utara. Dimana keseluruhannya ternyata belum dapat mempresentasikan Indonesia. Dikarenakan masih banyak daerah lain yang layak dikunjungi dan tersebar secara geografi dari Sabang hingga Merauke.

Masyarakat yang tergabung dengan komunitas jalan-jalan di social media sangat banyak jumlahnya. Contohnya komunitas traveller yang beranggotakan hingga 37 ribu member, seperti : Backpacker Indonesia (BPI) berjumlah 16 ribu orang. Hal tersebut ternyata menunjukkan antusiasme masyarakan melakukan perjalanan yang semakin lama semakin ramai.

Apabila pelayanan di suatu destinasi wisata semakin baik, serta keramahan kepada pengunjung ataupun wisatawan. Ternyata dapat meningkatkan kemampuan suatu daerah menciptakan kesejahteraannya. Roda ekonomi semakin cepat berputar, sektor ekonomi masyarakat termasuk pelaku ekonomi. Bukan hanya di bidang pariwisata namun di semua bidang akan dapat terealisasi.

Anda mungkin suka