Keragaman Wayang di Indonesia, Sebuah Kesenian Indonesia

Keragaman wayang adalah aset budaya nasional yang akan terus bertahan kendati digerus kemajuan zaman.

Keragaman Wayang

Tikum Life – Keragaman wayang adalah aset budaya nasional yang akan terus bertahan kendati digerus kemajuan zaman.

<img data-lazyloaded=
Keragaman Wayang

Kesenian wayang adalah jenis kesenian yang tidak lekang oleh waktu sebab mengangkat sesuatu yang akan terus relevan sampai kapan pun, yakni mengenai karakter manusia. Yuk, mengenal lebih dalam seni wayang yang lekat dengan budaya Indonesia dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Sejarah Wayang

Dari sisi sejarah, catatan awal terkait wayang terdapat di Prasasti Balitung. Pertunjukan wayang dijadikan media penyebaran agama Hindu dengan menampilkan lakon Mahabharata dan Ramayana.

Wali Songo turut berperan dalam perkembangan kesenian wayang hingga seperti yang kita kenal sekarang. Mereka membagi wayang menjadi tiga bentuk, yaitu wayang kulit di wilayah Jawa Timur, wayang wong di kawasan Jawa Tengah, dan wayang golek di daerah Jawa Barat. Ini mengandung filosofi sendiri yang bermakna pencarian jati diri itu di barat, timur, dan di dalam hati.

Jenis-jenis Wayang

Ketika berbicara tentang jenis-jenis wayang, pembagiannya bisa banyak sekali tergantung dilihat dari segi apa.

Jenis wayang berdasarkan media yang dipakai

Berikut jenis-jenis wayang berdasarkan bahan atau media yang digunakan dalam pementasannya:

1. Wayang kulit

Wayang kulit yang dibuat menggunakan kulit sapi atau kerbau dipercaya sebagai cikal bakal dari hadirnya beragam jenis wayang. Jika ditelisik lebih jauh, wayang purwa milik Sri Jayabaya adalah wayang kulit yang pertama ada di nusantara. Bentuk wayang kulit mengalami perubahan, dari yang berukuran sangat besar pada zaman kejayaan Keraton Surakarta hingga ke ukuran yang lebih kecil.

2. Wayang gedog

Wayang gedog disinyalir telah ada sejak zaman Majapahit dan bentuk yang kita ketahui saat ini konon diciptakan tahun 1485 oleh Girindrawarddhana. Bentuknya mirip wayang purwa tetapi dengan tatahan dan sunggingan yang berbeda. Di zaman Panembahan Senapati Mataram, wayang gedong ditambahkan keris.

3. Wayang wong

Wayang wong yang diciptakan pada tahun 1731 oleh Sultan Hamangkurat I ialah bentuk lain dari wayang purwa yang dilakonkan oleh manusia. Para pelakon mengenakan kostum dan hiasan seperti yang ada di wayang kulit. Agar lebih menyerupai wayang kulit maka tak jarang wajahnya pun dirias sedemikian rupa.

4. Wayang golek

Wayang golek yang terbuat dari kayu telah ada sejak tahun 1538, ketika digunakan oleh Sunan Kudus sebagai media untuk menyebarkan agama Islam. Wayang golek kemudian lebih dikembangkan di tatar Sunda. Bentuknya yang tampak lebih hidup dari jenis wayang-wayang lain menjadi daya tarik tersendiri.

Mendiang Ki Asep Sunandar Sunarya adalah dalang yang memiliki peranan besar dalam mengembangkan kesenian wayang golek. Beliau memberikan sentuhan-sentuhan masa kini yang membuat wayang golek tidak ketinggalan zaman dan bisa menjangkau segala usia.

5. Wayang klithik

Seperti wayang golek, wayang klithik juga berbahan dasar kayu. Hanya saja bentuknya pipih mirip wayang kulit tetapi memiliki gagang dari kayu, sementara tangan wayang terbuat dari tatahan bahan kulit. Nama klithik berasal dari suara “klithik, klithik” yang timbul saat wayang tersebut dimainkan.

6. Wayang beber

Jenis yang satu ini mungkin paling berbeda dari yang lain karena media yang dipakai adalah lembaran-lembaran kain tempat adegan-adegan pewayangan digambarkan. Pada pementasannya, lembaran-lembaran kain dibuka satu demi satu.
Eksistensi Wayang

Kesenian wayang merupakan warisan budaya tak benda pertama Indonesia yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO dan pertunjukan wayang ditetapkan sebagai Oral World Masterpieces of Intangible Heritage of Humanity.

Wayang akan terus bertahan kendati digerus kemajuan zaman karena sifatnya yang dinamis dan sarat berisi nilai-nilai kehidupan. Di masa pandemi, pertunjukan wayang dalam bentuk virtual cukup diminati masyarakat.