Kelinci Hewan Sakral Dalam Mitologi Yunani

Siapa yang menyangka ternyata kelinci hewan lucu berwarna putih ini memiliki kedekatan dengan dewa-dewi Yunani hingga dianggap hewan sakral?

Tikum.id Animal Lovers – Siapa yang menyangka ternyata kelinci hewan lucu berwarna putih ini memiliki kedekatan dengan dewa-dewi Yunani hingga dianggap hewan sakral?

<img data-lazyloaded=

Kelinci sudah menjadi sosok mitologi dan motif seni penting di berbagai budaya di sepanjang sejarah dunia. Kemunculan kelinci di Romawi Kuno hingga pra-Romawi pada Zaman Besi Inggris dibuat untuk menciptakan hubungan budaya yang menarik dari invasi bangsa Romawi ke Inggris yang meninggalkan jejak pada benda-benda budaya yang dibuat setelahnya.

Kelinci dalam Cerita Rakyat

Simbol kelinci sering muncul pada zaman dahulu mulai dari Mesir Kuno hingga Yunani dan Romawi Klasik. Contohnya adalah keberadaan cerita binatang Aesop yang dikenal semua orang. Aesop adalah seekor kura-kura lambat yang mengalahkan seekor kelinci congkak dalam lomba lari.

Akibat kecepatan dan kelincahannya, kelinci dijadikan sebagai hewan buruan bangsa Yunani dan Romawi. Bahkan, pada suatu peninggalan bersejarah, ada penggambaran sosok yang mirip seperti kelinci mengejar anjing pemburu di Vindolanda, Inggris.

Kelinci juga banyak diyakini mewakili kesuburan dan hasrat seksual. Herodotus, Aristoteles, dan Plinius menuliskan tentang kesuburan kelinci yang dianggap berhubungan dengan sifat alami mereka yang sering dijadikan mangsa sehingga menciptakan dinamika di mana kelinci-kelinci yang bertahan hidup hingga saat ini sebagai akibat dari kesuburan mereka. Oleh karenanya, kelinci berkaitan erat dengan siklus hidup, pembaruan, dan keabadian.

Kelinci dan Dewa-Dewi Yunani

Selain terkenal luas di masyarakat, kelinci ternyata berkaitan erat dengan dewa-dewa Yunani. Kelinci dianggap suci bagi Venus/Aphrodite di agama bangsa Romawi Kuno dan Eros di agama bangsa Yunani kuno dan sering muncul dalam penggambaran Sang Dewi Cinta.

Mitologi Yunani dan Romawi mengatakan bahwa kelinci mewakili cinta, nafsu, keberlimpahan, dan kesuburan. Kelinci diasosiasikan dengan Artemis, dewi alam liar dan berburu. Ia tidak mengizinkan bayi kelinci untuk disembelih atau ditumbalkan. Pahatan kelinci yang memakan buah anggur dan ara terlihat pada batu pusara bangsa Yunani dan Romawi sebagai simbolisasi siklus kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali.

Gambar Kelinci pada Peninggalan Sejarah

Bangsa Yunani Kuno juga sering memahat bentuk kelinci pada cincin dan mangkuk pernikahan. Tradisi menukarkan kelinci hidup sebagai hadiah antara kedua pasangan juga dilakukan di kedua bangsa tersebut. Keberuntungan kaki kelinci yang masih diyakini hingga sekarang juga berasal dari kebudayaan pada masa lampau.

Fosil-fosil gua mengindikasikan bahwa spesies kelinci peranakan Irlandia sudah ada sejak 30.000 tahun yang lalu di Inggris. Sementara bukti keberadaan kelinci cokelat di negara tersebut muncul antara abad kelima dan keenam. Bukti adanya interaksi antara manusia dan kelinci sudah ditemukan sejak Inggris pra-Romawi, di mana ditemukan tulang-belulang kelinci yang dikubur dengan sangat hati-hati tanpa adanya indikasi terjadinya penyembelihan. Hal ini menunjukkan bahwa kelinci tidak dianggap sebagai bahan pangan dan juga ada kemungkinan bahwa hewan-hewan itu dianggap suci.

Peninggalan seperti perhiasan yang memiliki desain kelinci juga menandakan penyembahan pada dewa kelinci sebelum kehadiran bangsa Romawi, mirip dengan hubungan antara kelinci dengan Venus atau Aphrodite. Diyakini bahwa dewi fajar dan musim semi, Eostre, yang mengilhami nama Paskah (Easter) dalam Bahasa Jerman, mungkin berasosiasi dengan kelinci.

Kelinci dalam Budaya Moderen

Saat ini, dewi-dewi – yang digambarkan berwujud kelinci – yang dulu mengendalikan cuaca dan siklus bulan, menjadi pembawa berita antara orang hidup dan yang sudah mati, hadir dalam dua wujud, bertindak sebagai Pelindung alam liar, bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup, cinta, kesuburan, dan kelahiran kembali telah dikurangi nilainya dalam perwujudan kartun, seperti kelinci kecil yang lucu.

Hal ini mengurangi kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus mengasosiasikan kelinci dengan sifat yang meragukan atau jahat. Itu semua adalah contoh dari bagaimana feminisme serta kesucian bumi telah dihilangkan oleh tradisi yang lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan.

Anda mungkin suka