Flores: Untuk Komunitas Pencinta Adventure & Heritage: Jalan-jalan 9 hari

travel pesona 1 191122

Bacaan 15 menit

Poin Penting

  • Flores semakin di rekomendasikan buku guide Lonely Planet sebagai salah satu tujuan Not To Miss
  • Frekuensi penerbangan semakin ramai
  • Kunjungan weekend semakin mudah
  • Hotel services semakin baik
  • Travelling tematik: Adventure, Cultural, Heritage, Sightseing
  • Sadar wisata semakin tinggi dan kita bisa menikmati keramahan masyarakat flores

Sobattikum, saya merasa begitu bersemangat hari ini. Betapa tidak karena cuti empat belas hari bermula hari ini. Yang lebih fantastis lagi, petualangan ke Flores menjadi modal bagus untuk membuat review perjalanan dan beberapa akomodasi dari Maumere hingga Labuan bajo.

Juga aku harus mengingat untuk tidak lupa bertemu dengan Andréee di bandara Ngurah Rai Bali karena memang harus berhenti untuk transit disini. Andrée sesorang perempuan asal Ile de France atau suburb Paris pernah menjadi teman sekolah di universitas Paris X. Kalau tidak salah dia berasal dari kota Saint-Germain-en-Laye.

Andrée Plantagenet, seorang perempuan dengan kepribadian kuat, independen, berpenampilan boyish menarik dan sangat unik karena setiapkali memasuki bulan Juli atau agustus, selalu melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, termasuk benua Afrika, Amerika utasra dan Selatan hingga Patagonia, bahkan dia pernahtravelling dari Paris hingga Los Angeles, setelah melewati Moscow, sepanhjang Siberia, Ulan Batar dan menyeberang ke Anchorage, kota kota di kanada, New York hingga akhirnya nyetir sendiri melewati route 66 dari Chicago hingga Vegas dan akhirnya Los Angeles. 3 kali dia coba mengajak saya untuk melakukan perjalanan dibelahan dunia lain, namun saya selalu menolak secara halus karena tidak punya kesempatan dapat cuti dari kantor yang hanya diperbolehkan selama 2 minggu.

Ada yang berbeda memang dari sistem cuti di eropa dengan kita di Indonesia. Kantor biasanya hanya memperbolehkan cuti selama 12 hari pertahun. kalau di perancis biasanya 5 minggu untuk musim panas dan akhir tahun. Yang lebih parah lagi orang Italia. 3 bulan, man. saya pertegas lagi. 3 bulan lamanya pekerja berhak untuk cuti setiap tahunnya. Sampai orang yang berbisnis dengan orang Italia kadang bingung, karena basically Italia itu shut down selama bulan agustus, kok bisa ya, apa pemerintahnya benar-benar memperhatikan kesejahteraan penduduknya. Tapi kalau begini, siapa yang cari duit dan dari mana untuk membiaya gaji dan pension serta pengeluaran negara? Perancis yang mengadopsi bekerja 40 jam seminggu saja sekarang sudah masalah. Apalagi orang Italia dengan model kerja, kalau dihitung hitung, cuma 3 hari x 4 jam seharinya.

Ok kembali ke Andrée. Bertemu dengan Andrée seperti bertemu dengan saudara dekat yang sudah lama tidak ketemu. Andréee dan saya tidak pernah punya affair karena perempuan model begini biasnya tidak punya minat dengan orang asia. Dia tertarik karena hanya ada satu orang Indonesia di kelas kami waktu itu dan Andréee selalu terpesona dengan keindahan Indonesia yang sering di tayangkan oleh channel TF1 dengan acara bernama Ushuaïa yang dibidani Nicolas Hulot dan Channel France 3 dengan nama acara Thalassa.

Dia begitu terlihat radiant, penuh senyum dan lebih muda di usianya yang sudah memasuki empat puluhan. Setelah lebih dua minggu muter-muter di Bali, dari selatan, kampung Bualu, Seminyak, Canggu, Utara di lovina dan Singaraja yang akhirnya, katanya dia lebih betah tinggal lebih lama di Ubud untuk bisa yoga.

Destinasi

Wairterang

Akhirnya kami tiba di bandara Wai Oti Maumere sekitar jam setengah dua setelah terbang dengan Wings Air selama 2 Jam. Impresi pertama hawa di sini terasa sangat panas, sepertinya melebihi klimat pantai Bali. Untungnya kita segera diselamatkan Bapak Andi, chauffeur Ankermy-Happy Dive. Hawa AC mobil yang terbialang baru setidaknya memberikan kenyamana menuju resort selama 30 menit perjalan. Sepanjang jalan panorama pantai dan kampung secara bergantian mendomisani pemandangan hingga akhirnya mendekati km 25, Gunung Egon menampakkan kegagahannya di sebelah kanan jalan.

Ankermy-Happy Dive merupakan Swiss-Indonesian Dive Operator yang dikelola oleh Claudia yang berkebangsaan Swiss dan Kermi yang merupakan perantau dari tanah Jawa, Terletak di desa Wairterang dijalan Lintas Larantuka – Maumere KM 30. Awalnya saat turun kendaraan, kami merasa ada yang janggal karena harus memasuki gang terbilan sempit yang tidak bisa dimasuki kendaraan. Suasana sekitar juga terlihat kering di dominasi oleh pohon jambu mente, lamtoro gung dan pohon nangka dan harus melewati gang yang di apit ole rumah penduduk dan kandang ayam.

Setelah 30 meter, keraguan sirna dengan pemandangan luar biasa, di kanan alley temhampar beberapa petak sawah termasuk pembangkit listri tenaga air parit yang kelihatan lucu namun berguna ubntuk menambah tenaga listrik disiang hari, dan disebelah kiri persis berhadapan dengan kolam ikan penuh dengan teratai. Sangat indah pengaturanny. Sedangkan 8 bungalow duplex tersusun rapi menghadap laut dan sawah. Karena semua kamar masih kosong, akhirnya Andrée memilih yang paling dekat dengan Restaurant. Mungkin biar lebih cepat dan dekat mengorder Bir dingin.

Setelah berkemas, kamipun segera bergegas untuk brertanya apa saja yang dapat dilakukan disekitar resort. Ibu Maria, sepertinya di hunjuk menjadi kepala restaurant memberi kami masukan kalau hal menarik yang dapat dikunjungi lumayan banyak termasuk (1) Mendaki Gunung Egon dan mengunjungi hotspring; (2) Mengunjungi desa yang memproses Sopi atau Arak Lokal; (3) Melihat penduduk mengerjakan Ika; (4) Mengunjungi Pasar yang biasanya start dari pagi hingga siang; (5) Mengunjungi Lime Stone Cave dengan berharap ketemu Gecko atau Tokek dan (6) Relax di pantai sambil menikmati sunset.

Akhirnya, karena sudah pukul 4 sore, kami memutuskan untuk mencari pantai yang tenang. Ibu maria mengindikasikan kalau kami lebih baik berjalan kearah Larantuka sejauh 3 kilometer dan akan menemukan pantai yang selalu sepi pengunjung. Dalam hari berguman, Perfect. karena sejak di pesawat menuju Maumere tak habisnya kami membicarakan mengenai pantai yang jauh dari perumahan penduduk dan bisa dinikmatoi dengan tenang, tampa penjaja daganagn dipantai, atau tawaran masssage.

Benar saja, setelah berjalan srejauh 3 km, dan melintasi hamparan ilalang yang dihuni oleh beberapa kerbau, akhirnya kami menemukan pantai yang tidak ada kucingnya (Andre selalu bilang kalau tidak ada siapun dia suka berguman “Il n’ya pas un chat). Pantai dengan pasir hitam dengan air yang jernih dan sangat panjang sekaligus sepi. Kami benar benar menikmati hingga matahari terbenam.

Akhirnya kami bertemu dengan Bu Claudia dan Pak Kermi dan memberikan kami beberapa masukan mengenai kegiatan snorkeling ke pulau babi besoknya, bahwa keberangkatan tidak melebihi pukul 8 pagi agar kami bisa mengunjungi lebih banyak spot. pak Kermi yang juga chef menyiapkan buffet untuk 4 orang tamu,; Andrée, sepasang orqang spanyol dari Barcelona dan saya sendiri.

Malam itu kami bayak bertukar informasi mengenai kehidupan dan pengalaman masing-masing dengan pasangan spanyol, claudia dan Kermi. Ada hal lucu mengenai nama Kermi. Dulunya Pak Kermi merintis membuka usaha restauran dan cafe bukanlah di sini di wairterang namun di Moni (desa transit menuju Gunung Kelimutu). Dulunya restaurant tempat usahanya banyak dihuni makhluk halus yang sering menampakkan keberadaannya kepada tau dan guides Kelimutu, hingga akhirnya dia dinamakan Ankermi.

Malam itu, kami disajikan mix salade, pizza dan penutup makan dengan fruit salad yang berkomposisi pepaya, markisa dan kelapa parut. Tak lupa kami mencicipi Sopi yang sengaja dibeli pak Andi begitu tahu saya berasal dari Sumatera.

Setelah sarapan pagi dengan crepes dan fruit salade, Pak Andi driver kami yang ternyata juga adalah pilot perahu yang akan membawa kami bersama dengan Pak Kermi. Dengan langit biru tanpa awan dan laut yang tenang. Setelah melaju selama 1 jam, kami sempat melihat bongkahan gelap seperti kerbau naik ke permukan dan kemudian hilang ditelan laut. hal ini terjadi 3 kali dan menurut Pak Kermi yang nongol tadi adalah paus biru. Memang posisi kami tidaklah terlalu jauh dari kampung Lamalera yang terkenal dengan tradisi mereka berburu paus.

Snorkeling disekitar pulau Babi dan Pangabaton sebanyak 5 spot menyuguhkan pemandangan kehidupan laut yang luar biasa (cek slideshow gallery disini ). Mulai snorkeling jam 10:30 hingga jeda makan siang dan kembali snorkeling hingga pukul 15:00 seperti tidak puas-puasnya berada dibawah air. Yang paling impresif adalah dibebearpa spot, anda bisa menyaksikan patahan dan palung akibat gempa ditahun 1992. Spot ini merupakan epicenter dari gempa tersebut.

Puas dengan snorkeling selama 5 jam, kami akhirnya memyudahi dan kembali ke Ankermi Bungalow dengan badan yang lumayan lelah, otot tersa keras dengan menggerakkan sepatu katak selama dibawah air, namun puas dengan pemandangan beragam dari koral, ikan , penyu dan hiu kecil yang terlihat besar, belum lagi volume air laut yang secara tidak sengaja tertelan. Akhir hari kami luangkan untuk berleha-leha di balai dan diakhiri dengan sunset spektakular dan makan malam dengan ikan bakar yang ditumbak oleh Pak Andi saat kami snorkeling siang tadi. Andrée begitu semangat bercerita apa yang dia lihat dan rasakan siang tadi dan tidak lupa mengucapkan apresiasi menemaninya hingga ke ujung dunia ini.

Kelimutu

Berhenti sejenak di Maumere, ditemani Bob Marley dengan “Satisfy My Soul” sambil menunggu penumpang tambahan. Setelah menemukan 3 penumpang baru, kami langsung menuju Moni yang ditempuh selama 2,5 jam dengan sharing travel berjenis Xenia. Perjalan bersama 3 penumpang lainnya cukup banyak animasi. penumpang bernama John cukup banyak mengekluarkan kelakar dengan salah satu penumpang bernama Lucia yang ternyata orang Ruteng. Perjalanan dari maumere ke Moni tersa singkat dan kamipun tiba di Moni dengan pilihan akomodasi Hidayah Guesthouse atas saran dari pasangan asal Barcelona yang kami temui kemarin di Ankermi Resort kemarin. Mereka telah tinggal beberapa hari di Moni dan mencoba penginapan lainnya seperti Watugana Guesthousre yang terpisah dari desa Moni. Mereka menyukai keheningan namum suasana cukup gelap dan memilih pindah ke desa Moni hingga menemukan Guseshouse Hidayah yang pesisi terlatak di ujung jalan desa dan bersebelahan dengan persawahan.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Moni dari ujung utara arah maumere dan ujung selatan kearah Ende. Sisa hari kami pergunakan untuk membaca dan ngobrol mengenai Ikat dengan Bu Maria pemilik guesthouse dekat dengan pasar Moni.

Moni masih merupakan bagian dari masyarakat etnik Sikka. Yang menarik adalah budaya dan sejarah dari masyarakat Sikka yang memiliki 3 dialek dengan asal dari Timor-Ambon. Warna kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan yang ada di Sumatera bagian utara karena memang masih serumpun (masih ingat masyarakat toba di sekitar nagasaribu yang memiliki ras proto-malay yang merupakan ras Negroid dengan budaya membuiat ikat atau ulos dan mengguna instrumen musik gong serta banyak persamaan lainnya)

Mengunjungi Kawah 3 warna Kelimutu dimulai pada pukul 3:30 pagi. Masih super ngantuk, ngak bisa membvuka mata apa lagi dibarengi dengan rasa dingin. Menurut Bang Brian, pemilik hostel Hidayah, dibulan Agustus biasanya pengunjung membludak dan kendaraan sering antri untuk mencapai Puncak. Berjalan di kegelapan dari areal parkir menuju puncak menjadi perlombaan untuk mendapatkan spot terbaik melihat matahari terbit, walau sebenarnya ada banyak space yang dapat menampung hingga seratusan orang.Tamu didominasi pengunjung mancanegara yang tak habis-habis memuji keindahan matahari terbit dan ke anggunan kawah Kootanuamuri yang berwarna turquoise pada sisi kiri dan kawah Alapolo berwarna biru di kanan. begitu pula kawah Abut yang ke3 dengan berwarna biru gelap yang berada pada arah opposisi.

Gunung Kelimutu yang penuh misteri dan memiliki legenda luar biasa, juga merupakan tempat ideal untuk birding. Ragam suara burung di pagi hari merupakan salah satu entertemen yang menyenangkan. Untuk menikmati Kelimutu dan hutannya lebih lama, kami memutuskan untuk berjalan kaki turun hingga Moni dengan melintasi hutan, kampung dan air terjun serta persawahan. Perjalan turun menempuh 7 km selama 5 jam.

Sebenarnya Andrée memiliki fisik lebih kuat karena seorang yang lumayan spotif. Belum lekang dari ingatan setiap kali kami mengunjungi, Mont Saint Michel dah bahkan yang lebih kecil seperti Parc des Buttes-Chaumont di 19ieme Arrodissement, dia selalu memenangi lomba jalan cepat. Dan yang belakangan nyampe biasanya yang bayar kopi atau makan siang. namun sore ini, dia kelihatan exhaused dan tak berminat untuk makan malam. Tadinya pengen nyobain Moni-Cake, kue kentang bakar dengan topping keju. Maria yang di Wairterang merekomendasikan agar mencoba kulinari lokal Moni yang katanya sangat enak. Benar juga, dengan bermodal Rp. 25000, Pak Bryan melayani kami dengan Kopi dan Moni Cake. Mereka sendiri menamakannya Hidayah Cake. Malam itu, Andrée membangunkan ku seputar pukul 1 pagi untuk star gazing kearah persawahan. Dengan cuaca cerah tanpa awan, pemandangan Bima Sakti luar biasa. Untuk mencegah jatuh dari pematang sawah, kami berpegangan tangan dengan erat. Tidak tahan dengan rasa dingin, kami pun kembali kekamar dan pagi itu aku mendapatkan kursus singkat mengenai semesta muali dari Big Bang, tubrukannya Tiamat yang menjadi bumi hari ini. Ngak tahan dengan kantuk, aku membiarkannya menyerocos yang semakin terasa redup dan jauh, meninggalkannya ke dalam tidur. Dia coba membangunkanku, tapi aku sudah kadung jauh didunia mimpi.

Bajawa

Kembali menaiki shared travel, hari ini kami menuju Bajawa via Ende. Sebelumnya kami hanya berempat dengan driver didalam mobil. Selama hampir 45 menit kami memutari kota Ende untuk cari penumpang tambahan.

Perjalanan dari Ende ke Bajawa yang memakan waktu 5 jam cukup menarik dengan suguhan pemandang pantai Batu Hijau. Hampir selama 1 jam sepanjang pantai kita menyaksikan pantai berwarna hijau. Sebenarnya batunya tidak menarik. Hanya saja pencinta Batu ikat mengasah ukuran lebih kecil untuk dijadikan mata cincin.

Mendekati Bajawa, pemandangan spektakular gunung Ebulobo ketika mendekat desa Boawae. Kemudian disusul dengan Gunung Inerie terlihat majestik sesuai dengan namanya. Ine atau berarti Ibu dan Rie yang cantik. Gunung ini merupakan gunung sakral bagi masyarakat Ngada dan dipercaya tempat bersemayamnya dan bertahta para dewa. Kutawarkan untuk mendaki Inerie, nmun Andrée memberi signal keengganan yang kemudian mengemukakan ketertarikannya untuk mengunjungi Kampung Bena dan pasar tradisional.

Rasa letih dari perjalanan kemarin masih menyisakan rasa sakit dan letih. Andrée yang merasa kedinginan dengan AC mobil sejak kami memasuki Boawae dan menanyakan kalau aku berkenan memeluknya. Karena kasihan, akupun memberi kehangatan dengan pelukan. Ini pertama kali kami benar-benar melakukan kontak tubuh walaupun sejak Maumere kami selalu seranjang namun kami selalu berusaha tidak melakukan kontak tubuh. Sentuhan kulit kami semakin lama makin hangat, namun semua berlalu tanpa pretensi di sepanjang sisa 90 menit perjalanan hingga kami tiba di penginapan Villa Silverin. Berlokasi 3 km sebelum Bajawa dengan veranda dan view spektakular menghadap lembah hijau.

Villa Silverin memiliki reputasi sebagai tempat yang direkomendasikan untuk Bajawa. Secara keseluruhan Kamar VIP dan air panas dan penerangan yang baik cukup untuk beberapa malam. Apalagi hotel ini telah memiliki banyak review yang baik.

Bena

Sarapan pagi di veranda dengan roti dan buah papaya serta fresh orange juice ditemani oleh pagi yang cerah, langit tak bercela oleh sedikitpun awan, mau minta apa lagi? Selama sarapan pagi, kucoba mencuri pandang dan selalu tertangkap sampai akhirnya aku menjelaskan itinerary hari ini dengan memandang dalam Andrée. Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan selugas mungkin tanpa melibatkan perasaan. Tapi memang subconsience tidak bisa berbohong dan perempuan lebih sensitif untuk urusan hati dan perasaan pria. Untuk menghindar tatapan yang , aku yakin, dia sedang mempelajari bahasa tubuhku yang rada salah tingkah. Untuk menutupinya, aku segera menyudahi sarapan pagi agar tidak berkepanjangan. Soalnya kalau sudah berlanjut menjadi “lebih sekedar teman” saya bisa jadi “in trouble” dan persahabatan kami bisa jadi lain. Dalam hati, aku harus menjaga hubungan kami hanya sebagai teman dan tidak lebih.

Terletak di kaki gunung Inerie, Bena adalah salah satu desa Ngada paling original dalam aspek tradisional. Kami mengambil angkot yang membawa kami langsung ke perkampungan Bena yang berjarak 26 km dari vila Silverin. Rumah-rumah tradisionasl atau Sao Meze sebanyak 45 unitb rumah adat, gagah berdiri diperuntukkan bagi sembilan marga. Ditengah halaman antara rumah rumah tersebut, berdiri monumen batu terbaik diperoleh dari kawasan ini lembah Jrebuu. Atap terbuat dari jerami tinggi berbaris dalam dua baris di atas punggungan, ruang di antara mereka dipenuhi dengan ngadhu halus,sedangkan bhaga dengan struktur makam megalitik (diolesi dengan darah kurban persembahan kepada leluhur). Mayoritas rumah memiliki desain jantan atau betina sebagai penanda di atapnya, sementara pintu-pintu dihiasi dengan tanduk kerbau berikut tulang rahangnya sebagai penanda kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Bena adalah desa Ngada yang paling banyak dikunjungi, dan tenunan serta kios suvenir berjejer di depan rumah menjaadi atraksi tambahan. Desa ini selalu penuh sesak saat grup wisatawan pada musim liburan namun tidak menjadi distraksi masyarakat Bena yang kelihatan cuek namun sebenarnya peduli dengan para pendatang dimana terlihat engagement komunikasi denagn pengunjung. Mayoritas penduduk desa adalah penganut Katolik dan biasanya menjalani pendidikan misionaris setempat, namun luarbiasanya, kepercayaan akan tradisi dan adat istiadat bertahan betul hingga saat ini.

Acara kurban diadakan tiga kali setiap tahun, dan para tetua desa masih tetap dan mengaplikasikan sistem kasta yang ditegakkan secara tegas untuk mencegah hubungan ‘campuran’, dengan masyarakat diluar marga. Mereka yang menentang ada biasanya mendapat sangsi bahkan berhadapan dengan kematian.

Andrée begitu menikmati kampung Bena, dan tak henti hentinya berbicara para Ibu-ibu dalam bahasa indonesia yang patah-patah yang berada di emperan rumah, mengenai ikat yang sedang ditenun. Selaku penerjemah dadakan, aku mencoba untuk secara benar mengartikulasikan arti dan maksud dari pembicaraan mereka agar tidak salah mengerti.

Karena grup wisatawan dalam dan mancanegara semakin ramai, kamipun akhirtnya menepi keujung desa untuk sejenak duduk dan melihat pemandangan kearah pasar Jarebu’u. Setelah 20 menit, kami memutuskan untuk turun sejauh 3 km mengunjungi pasar tradisional yang ramainya luar biasa karena hari itu memang sedang ada pasar besar diramaikan masyarakat dari berbagai penjuru daerah yang hendak berbelanja untuk stok mingguan.

Andrée begitu bersemangat mencari Ikat yang cocok dengan hatinya. Aku menyingkir untuk ngopi, mencoba kopi Bajawa yang lumayan kondang bersama para pria yang nongrong disalah satu stal dan membiarkan Andrée untuk bernegosiasi sebisanya menawar. Aku sebelumnya sudah memberi tahu harga ikat yang kasar maupun yang halus.

Mendekati pukul 12 siang, Andrée bertanya mengapa begitui banyaknya masyarakat, bukan hanya perempuan tapi juga kalangan pria yang menguyah sirih. Saya menawarkan untuk mencoba menguyah sendiri. Setelah menguyah 3 hingga 4 kali, Andrée benar benar tidak bisa bertahan karena rasa pedas dan berjanji tidak akan pernah mencobanya lagi.

Kami pun pulang denagn hati senang, khususnya Andrée yang berhasil menemukan 4 lembar ikat. Dalam angkot yang kemudian dia menamakannya “Bis Ayam” karena sejak pasar Jarebu’u hingga villa Silverin, penumpang naik dan turun angkot kami silih berganti dengan penumpang yang selalu membawa ayam.

Orang Ngada

Saat ini, terdapat lebih dari 60.000 orang Ngada mendiami dataran tinggi Bajawa dan lembah Jarebuu di lembah sekitar Gunung Inerie. Mayoritas masih menganut kepercayaan campuran antara animisme dan kristen, menyembah Gae Dewa, deity yang mempersatukan Dewa Zeta (surga) dan Nitu Sale (bumi). Contoh tradisi Ngada yang masih kental adalah sepasang ngadhu dan bhaga. Ngadhu adalah struktur mirip payung yang tingginya sekitar 3m, terdiri dari kayu berukir dengan tiang dan ‘atap’ jerami, sedangkan bhaga adalah rumah beratap jerami mini.

Ngadhu adalah ‘laki-laki’ dan bhaga adalah ‘perempuan’. Setiap pasangan dikaitkan dengan suatu kelompok keluarga atau marga dalam suatu desa. Beberapa dibangun lebih dari 100 tahun yang lalu untuk memperingati leluhur yan gugur dalam pertempuran dulunya. Ritual kesuburan pertanian juga terus berlanjut (terkadang melibatkan pengorbanan kerbau berdarah), seperti serta upacara menandai kelahiran, perkawinan, kematian dan pembangunan rumah – selalu merupakan acara komunal. Festival tahunan utama adalah upacara Reba enam hari di Bena, yang diadakan pada malam hari di bulan Desember atau awal Januari. Penduduk desa memakai ikat serba hitam yang dibuat khusus, mengorbankan kerbau, dan bernyanyi dan menari sepanjang malam.

Meskipun Ngada bukan matriarkal (tetua desa adalah laki-laki), pada prakteknya merupakan matriarkal lineal, yang berarti bahwa properti diturunkan melalui wanita.

Ruteng

Keindahan Flores tidak dapat dibandingkandengan daerah lainnya. Memasuki Flores seperti menjelajah hutan tropis Manggarai yang subur dengan paduan hutan lebat dan subur menciptakan realme Destinesia dimana anda sesudah masuk anda menjadi lupa mengapa anda datang ke sini pada mulanya.

Ruteng merupakan base dari penjelajah daerah Manggarai. Sawah Laba-Laba atau Spider Web Rice Field merupakan atraksi utama di Ruteng. Berlokasi 20 km ke arah barat Ruteng. Anda dapat menyewa menyewa angkot hingga desa Cancar. Biasanya driver angkot tahu Golo Curu, dimana anda harus berhenti. Anda akan menaiki bukit kecil untuk dapat menikmati panorama persawahan. Jangan lupa berterima kasih dan membayar Rp. 10,000 kepada pemilik tempat.

Sawah dengan bentuk laba-laba ini merupakan warisan dari Raja Alexander Baruk di seputar tahun 1931 dengan menganut pola Lodok yaitu titik nol dan lahan semakin melebar akan dibagi sebgai tanah ulayat. Saat ini terdapat 11 hamparan sawah Lodok. Kami bertemu dengan puluhan turis yang mengapresiasi pemandangan. Sempat ngobrol dengan guide group tersebut, menurutnya ratusan turis manca negara datang mengunjungi Cancar setiap harinya.

Point of interest lainnya adalah Liang Bua tempat ditemukannya Flores Hobbit atau orang pendek. Gua ini ditemukan pada tahun 2003 lalu. Berlokasi 14 km kearah utara Ruteng, dapat diakses dengan Angkot. Perlu membayar Rp. 30.000 untuk entry fee.

Kembali ke Villa Silverin, kami lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca disudut kami masing-masing. Cara jitu untuk tidak berinteraksi. Aku mencoba menjauh agar kejadian kemarin tidak terulang.

Jadi teringat beberapa kali melihat di Internet orang orang tidak berbicara selama beberapa minggu dan bahkan hingga satu bulan. Kalau disadari, dunia ini sangatlah berisik terutama bagi kita yang tinggal dijakarta. Menurut penelitian DR. Matthias Mehl dengan publikasi di 2007 bahwa perempuan biasanya bicara hingga 16,215 kata perhari sedangkan pria 15,699. Bayangkan betapa tenangnya semesta ini kalau untuk sementara kita berhenti berbicara dan lebih banyak menggunakan pikiran dan berkomunikasi dengan semesta dengan gelombang elektromagnetik. Mayoritas hasil dari terapi ini memberikan rasa jiwa yang tenang dan mempermudah kita menemukan jati diri.

Labuan Bajo

Makan pagi kami lewati dengan masing-masing dalam realm sendiri. Hanya ucapan selamat pagi yang terucap dan masing masing mengurus kesibukan masing-masing. Setelah berberes, kami akhirnya mengarah Labuan Bajo dengan shared travel. Perlu tiga setengah jam untuk mencapai Green Hill Boutique Hotel. Kami memilih hotel yang termasuk kelas menengah. View pelabuhan dan pantai.

Sore harinya, kami menyempatkan untuk mengitari kota Labuan Bajo dengan berjalan kaki sekaligus mencari paket snorkeling kepulau yang terdekat untuk besok pagi sebelum kembali ke Denpasar. Sayang karena mayoritas snorkeling harus mengunjungi pulau dan pesawat kami berangkat pukul 5 sore, kami putuskan untuk melihat apa yang ada diseputar Labuan Bajo saja. Setelah melewati pasar ikan, kami singgah dan mencoba seafood dikampung ujung. Para pedagang mayoritas dari pulau jawa dan sulawesi tahu benar meracik bumbu dan sekaligus menyiapkan good spot menikmati sunset.

Keesokan harinya kami putuskan untuk mendaki Bukit Amelia. yang hanya berjarak 11 km dari penginapan. Dengan mendaki selama 5 menit, bukit Amelia dapat dicapai dengan sedikit tingkat ksulitan. Dari atas, kita menikmati keindahan gugusan perbukitan Labuan Bajo bagian utara. Pemandangan panorama yang sangat Indah dan layak untuk dikunjungi.

Siangnya, kami melewati banyak waktu menyisiri dan berjemur di pantai Pede yang merupakan satu-satunya pantai yang bisa diakses secara bebas oleh wisatawan dan masyarakat. Lokasinya berada di selatan kota dan dicapai sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor.

Tepat pukul 5 sore, pesawat kamipun akhirnya takeoff menuju Denpasar dengan rasa kehilangan dengan Pulau yang baru saja selesai dikunjungi. Aku akan merindukan Flores. Namun aku berjanji akan kembali dan tinggal lebih lama, karena memang masih banyak tempat yang kami tidak dapat kunjungi karena waktu yang sedikit. Sebut saja pantai utara aseperti Riung dengan pulau seribunya dan Rao dengan keindahan pantainya.

Setibanya di Bali, kami masih sempat nongkrong di starbuck menunggu pesawat transit ke Jakarta selama 1 jam. Untuk tidak berlarut-larut, saya mengucapkan selamat berpisah ke Andrée. Dia memberikan pelukan yang kuat dengan mata berkaca-kaca sambil mengucapkan, “Je te verrai bientot, n’oblie pas”.

Transportasi Udara

Denpasar – Maumer

  • Carrier Durasi Dep. Harga
  • NAM 1,2 Jam 10:40 1,4 Juta
  • WINGS 2 Jam 10:40 1,35Juta

Labuan Bajo – Denpasar

  • NAM 45 Mnt 11:40 1,1 Juta
  • 65 Mnt 17:40 1,1 Juta
  • WINGS 80 Mnt 08:40 1,3 Juta
  • 80 Mnt 09:35 1,3 Juta

Kesana kemari

Maumere – Moni (dalam ribu rupiah)

  • Travel Shared 3 Jam Rp. 100
  • Bus 3 Jam Rp. 50

Moni – Bajawa

  • Travel Shared 7 Jam Rp. 150
  • Bus 8 Jam Rp. 90

Bajawa – Ruteng

  • Travel Shared Xenia 3,5 Jam Rp. 120
  • Bus 4 Jam Rp. 60

Ruteng Labuan Bajo

  • Travel Shared Xenia 4 Jam Rp. 140
  • Bus 58 Jam Rp. 60

Akomodasi

Wairterang: Ankermy Happy Dive

  • Harga Bungalow: Rp. 295 – 365
  • Kebersihan: 4.0/ 5 | Fasilitas: 3.0/ 5
  • Lokasi: 3.0 / 5 | Servis: 3.0 / 5
  • Kenyamanan kamar 4.5 / 5 | Makan pagi: 4.0 /5
  • Nilai investasi: 4.1 / 5

Moni: Hidayah Guesthouse

  • Harga kamar: Rp. 350
  • Kebersihan: 1.0/ 5 | Fasilitas: 1.5 / 5
  • Lokasi: 1.50 / 5 | Servis: 2.0 / 5
  • Nilai investasi: 2.1 / 5

Bajawa: Vila Silverin

  • Harga kamar Rp. 350 – 450
  • Kebersihan: 1.5 / 5 | Fasilitas: 1 / 5
  • Lokasi: 2.3 / 5 | Servis: 1.5 / 5
  • Nilai investasi: 1.5 / 5

Ruteng: Spring Hill Bungalow

  • Harga kamar Rp. 750
  • Kebersihan: 4.5 / 5 | Fasilitas: 4.5 / 5
  • Lokasi: 4.2 / 5 | Servis: 9 / 5
  • Kenyamanan kamar 4.5 / 5 | Makan pagi: 3.0 /5
  • Nilai investasi: 4.3 / 5

Labuan Bajo: Green Hill Boutique

  • Room Rp. 650 – 750
  • Kebersihan: 3.5 / 5 | Fasilitas: 3.0 / 5
  • Lokasi: 3.5 / 5 | Servis: 3.7 / 5
  • Kenyamanan kamar 3.7 / 5 | Makan pagi: 3.0 /5
  • Nilai investasi: 3.5 / 5

Activities

Diving (single dive): Euro 35 (Minimum 3 pax)

  • Snorkeling: Rp. 600.000 per boat shareable (Equipment Rp. 30)
  • Nilai investasi: 4.5 / 5

Kelimutu

  • Entrance: Senin- Sabtu: Rp. 150, Minggu: Rp. 225
  • Angkot: Rp. 300 PP
  • Ojek: Rp. 50 Sekali Jalan

Bena

  • Donasi: Rp. 10 – 20
  • Ojek: Rp. 70

Anda dapat mengikuti ulasan destinasi menarik seluruh indonesia melalui Kanal Travel di #homeofcommunity https://tikum.id.

Artikel ini ditulis Anu Tualang
Sumber http://bit.ly/at-flores9days 

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.

Anda mungkin suka