Agar Tak Diacungi Jari Tengah, Begini Etika Bersepeda di Jalan Raya

Menggowes ramai-ramai memang menyenangkan, tetapi bukan berarti bisa seenaknya. Ada aturan dan etika yang perlu diterapkan saat bersepeda di jalan raya,

Tikum BicycleMenggowes ramai-ramai memang menyenangkan, tetapi bukan berarti bisa seenaknya. Ada aturan dan etika yang perlu diterapkan saat bersepeda di jalan raya, berikut uraiannya.

Mengendarai sepeda kayuh memang tidak membutuhkan persyaratan khusus layaknya pengemudi kendaraan bermotor. Tapi bukan tanpa aturan, pegowes dianjurkan tetap menjaga etika berkendara demi keselamatan diri dan pengguna jalan lainnya.

Pemerintah telah membuat ketentuan khusus tentang aktivitas bersepeda di jalan raya. Di dalamnya terdapat aturan mengenai beberapa hal, seperti jenis sepeda yang boleh digunakan, anjuran dan tata cara, serta sejumlah larangan saat bersepeda, berikut uraiannya.

1. Standar Sepeda yang Boleh Digunakan

Pertama, jenis sepeda yang digunakan sebaiknya telah memenuhi standar SNI dan persyaratan keselamatan. Persyaratan keselamatan yang dimaksud, antara lain dilengkapi dengan spakbor, bel, sistem rem, dan pedal, semuanya harus dalam kondisi prima.

Selain itu, sepeda sebaiknya juga dilengkapi dengan lampu dan reflektor cahaya merah. Terutama pada saat berkendara dalam kondisi tertentu, seperti pada jarak pandang yang terbatas karena gelap, cuaca hujan lebat, berkabut, atau saat melewati terowongan.

2. Tata Cara bersepeda di Jalan Raya

Kedua, pegowes harus memahami dan mematuhi aturan berlalu lintas. Mulai dari menyalakan lampu pada malam hari, mengikuti rambu-rambu lalu lintas, bersepeda di jalur yang telah ditetapkan, memprioritaskan pejalan kaki, menjaga jarak aman, hingga turut menjaga ketertiban dan keselamatan semua pengguna jalan secara umum.

Masih dalam tata cara berlalu lintas, pegowes dianjurkan memakai isyarat tangan saat akan bermanuver atau berhenti. Isyarat untuk belok kanan atau kiri, memakai tangan yang direntangkan setinggi bahu menjauhi tubuh. Lalu mengangkat salah satu tangan di samping kepala jika akan berhenti, dan mengayunkan tangan untuk memberi isyarat bagi kendaraan lain agar menyalip.

3. Larangan-larangan bagi Pesepeda

Saat berada di jalan raya, pegowes dilarang berdampingan dengan kendaraan lain, kecuali ada rambu lalu lintas yang memperbolehkannya. Berkendara berdampingan hanya diperbolehkan untuk dua sepeda, tidak lebih.

Sepeda tidak diperkenankan ditarik oleh kendaraan bermotor, apalagi dalam kecepatan tinggi yang berisiko membahayakan keselamatan. Di samping itu, hanya sepeda yang dilengkapi boncengan khusus yang boleh mengangkut penumpang lain selain pengemudi.

Seperti halnya pengemudi sepeda motor, pegowes juga dilarang memakai payung dan mengoperasikan ponsel atau smartphone ketika berkendara. Bila terpaksa, usahakan memakai earphone dengan mengatur batas volume aman.
Aturan tertib bersepeda di jalan raya, selengkapnya dapat dilihat di Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan.

Etika Bersepeda di Jalan Raya

Viral foto pengendara motor mengacungkan jari tengah pada rombongan pegowes beberapa waktu lalu, bisa menjadi salah satu bukti kurangnya penerapan etika berkendara. Nah, berikut panduan singkat bagaimana etika bersepeda yang lebih bijak dan aman di jalan raya.

  • Bersepeda dengan konsentrasi tinggi dan selalu memperhatikan kondisi sekitar.
  • Selalu pakai helm dan alas kaki ketika menggowes di jalan raya. Kenakan baju yang mudah terlihat, terutama dalam kondisi gelap.
  • Patuhi aturan lalu lintas yang berlaku, seperti berhenti di lampu merah, selalu berada di lajur sepeda atau jalur paling kiri, dan hindari melawan arus.
  • Jaga jarak aman dengan pengendara lain, jangan terlalu dekat dengan trotoar. Kalau terpaksa memakai trotoar, pastikan saat kondisinya sepi dan prioritaskan pejalan kaki dan penyandang disabilitas.
  • Beri isyarat saat akan bermanuver, dengan metode seperti yang telah disebutkan dalam aturan di atas. Apabila terpaksa berteriak, gunakan kata-kata yang sopan. Komunikasi dengan kontak mata juga penting untuk membantu pengguna jalan lain memahami maksud dan tujuan pesepeda.

Meski kerap dicap sebagai pengguna jalan kelas dua, sejatinya pegowes memiliki kewajiban yang sama dengan pemotor atau pengendara mobil. Semua wajib berpartisipasi menjaga ketertiban, keamanan, dan keselamatan di jalan raya. Pegowes rombongan yang beretika lebih mungkin mendapatkan rasa hormat dari pengguna jalan lainnya.

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.

Anda mungkin suka