6 Wanita yang Punya Kontribusi Lawan Pandemi

Selama pandemi, banyak orang berjuang agar wabah segera berakhir. Beberapa sosok penting itu ternyata wanita. Siapa saja mereka?

Tikum Woman – Beberapa waktu yang lalu, Dame Sarah Gilbert mendapatkan standing ovation di hari pertama pertandingan Wimbledon di Inggris. Dia merupakan salah satu dari ilmuwan Inggris yang menjadi pencipta vaksin AstraZeneca yang digunakan di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

Gilbert ternyata bukan satu-satunya sosok wanita yang ikut berkontribusi agar pandemi segera berakhir. Masih banyak nama-nama lain yang layak menjadi inspirasi. Siapa saja mereka?

Özlem Türeci

Salah satu pendiri perusahaan bioteknologi BioNtech, Özlem Türeci bukan hanya seorang ilmuwan tapi juga dokter, pengusaha dan pemimpin di sektor kesehatan global. Pada tahun 2020 lalu, perusahaannya mengembangkan vaksin berbasis RNA pertama yang disetujui untuk melawan Covid-19. Ini merupakan momen penuh harapan bagi seluruh masyarakat dunia.

Lebih dari 1.300 pekerja dari 60 negara saat bekerja di BioNTech dan lebih dari setengahnya adalah wanita. Özlem Türeci mengatakan bahwa para ilmuwan harus fokus pada apa yang ingin mereka ubah dan pecahkan serta berpikir luas dan punya mimpi besar.

Katalin Karikó

Ada banyak penempuan awal yang membuat pengembangan vaksin Covid-19 menjadi mungkin. Salah satunya dilakukan oleh Katalin Karikó yang berfokus pada kemungkinan terapeutik mRNA. Namun, gagasannya yang menyebut bahwa mRNA bisa digunakan untuk melawan penyakit dianggap terlalu radikal dan terlalu berisiko untuk didanai pada saat itu. Dia mengajukan hibah demi hibah tapi terus mendapatkan penolakan. Dia bahkan diturunkan dari jabatannya namun tetap tidak menyerah.

Akhirnya, Katalin Karikó dan mantan rekannya Drew Weissman mengembangkan metode penggunakan mRNA sintetis untuk melawan penyakit. Penemuan itulah yang sekarang menjadi dasar pembuatan vaksin Covid-19.

Anika Chebrolu

Ketika perusahaan farmasi terbesar di dunia berlomba untuk mendapatkan vaksin Covid-19, ada satu penemuan yang berhasil diungkap oleh ilmuwan muda yang berpotensi untuk memberikan terapi bagi virus corona jenis baru. Anika, merupakan gadis 14 tahun berkebangsaan India-Amerika yang memulai proyek sainsnya dari kamar tidur saat dirinya duduk di kelas 8.

Awalnya, dia mencari pengobatan untuk virus influenza. Artinya, dia mempelajari salah satu pandemi yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia sampai Covid-19 benar-benar terjadi. Ketika wabah mulai menyebar, Anika mengubah haluan penelitian dan dengan bantuan mentornya, menargetkan virus penyebab Covid-19. Dia mengidentifikasi molekul timbal yang secara selektif bisa mengikat lonjakan protein SARS-CoV-2 dan berpotensi menghambat virus corona baru. Pada Oktober 2020, Anika memenangkan 3M Young Scientist Challenge.

Megs Shah dan Fairuz Ahmed

Jika kebanyakan langkah penanganan Covid-19 berfokus pada isolasi yang lama, banyak orang yang justru menjadi korban dalam hubungan yang tidak aman dan tindak kekerasan selama berada di rumah. Megs Shah dan Fairuz Ahmed menyadari perlunya teknologi baru untuk menjangkau mereka yang membutuhkan. Ini memungkinkan organisasi penyedia layanan benar-benar terhubung dengan para penyintas kekerasan dalam rumah tangga serta mengelola kasusnya secara virtual.

The Parasol Cooperative yang didirikan oleh Shah dan Ahmed bekerja untuk mendidik dan menghubungkan para penyintas serta mereka yang membutuhkan dengan penyedia layanan. Teknologi inovatif mereka yang terinspirasi dari pengalaman pribadi mereka sendiri bertujuan untuk menawarkan bantuan pada populasi yang paling rentan terkena dampak kekerasan dalam rumah tangga.

Ramida “Jennie” Juengpaisal

Di Thailand, ada Ramida Juengpaisal. Gadis berusia 24 tahun ini bekerja membuat pelacak Covid-19 nasional yang mengumpulkan informasi terkait virus tersebut guna membantu menghentikan penyebaran virus saat pertama kali wabah mulai terjadi.

Pelacak Covid-19 oleh 5Lab yang dikerjakan oleh Jennie berbagi informasi tentang wabah, prosedur pembersihan serta informasi penting tentang lokasi pengujian dan berapa biayanya.

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi wanita-wanita yang berjuang melawan pandemi. Terutama tenaga kesehatan seperti perawat dan dokter yang bekerja tiada henti. Apa harapan Anda untuk mereka semua?

Dapatkan updates langsung ke perangkat Anda, Join Sekarang.

Anda mungkin suka